Seminar Remaja, Teknologi & Remaja Kespro

9
Jpeg

Jpeg

Pada Ahad (27/12) pagi, Aula RRI Pekanbaru Jalan Jendral Sudirman No. 440 sudah dipenuhi lautan manusia, mereka tidak sabar mengikuti acara “Seminar Remaja, Teknologi dan Remaja Kespro” yang ditaja oleh STAR PKBI dengan moderator Andreass Julio.

Jpeg

Dalam seminar yang diadakan dari Pukul 09.30 WIB ini, terdapat tiga orang pembicara dengan latar yang berbeda, yakni:

  1. Ahyani RF., S.Psi, M.A., selaku Psikolog
  2. Hikmah Rizky Utami, Volunteer PKBI
  3. Said Muhammad Zaki, Amd, selaku owner infoPKU

Jpeg

Pembicara I Ahyani RF., S.Psi, M.A., selaku Psikolog, menjelaskan tentang kespro, mulai dari tujuan, bentuk perilaku, dampak fisik, dampak psikologis hingga hambatan kespro.

“Kespro sangat penting, khususnya remaja, dari sana mereka akan mengetahui kapan tingkat pematangan usia mereka,” ujar dosen Fakultas Psikologi UIN Suska Riau ini.

Memang dengan usia yang masih muda dan memasuki pubertas, tidak memungkinkan akan terjadinya penyimpangan seksual atau juga pernikahan dini. Maka dari itu diperlukan pengetahuan akan kespro sehingga nantinya usia remaja lebih matang.

Selesai dengan Ahyani RF., S.Psi, M.A., kemudian pembicara dilanjutkan ke Hikmah Rizky Utami, selaku volunteer dari STAR PKBI.

Jpeg

Ia mulai menceritakan tentang Kespro, yakni merupakan kepanjangan dari Kesehatan Reproduksi. Banyak mitos tentang kesehatan reproduksi yang beredar karena diakibatkan kurangnya informasi.

Oleh karena itu Tami, selaku anggota STAR PKBI menyarankan “sebaiknya tempat sharing yang tepat mengenai kespro adalah ke orang tua. Namun pada saat ini para remaja malu membicarakan hal itu ke orang tuanya”.

Tambah mahasiswa Fapertapet UIN Suska Riau ini, “para remaja lebih suka membicarakan ke teman atau juga mencari tahu di internet”.

Seperti yang kita ketahui, informasi mengenai kespro yang ada pada di internet belum tentu benar dan terpercaya. Maka ia berpesan agar para remaja lebih berhati-hati dan mampu memilah-memilih saat mencari informasi kespro pada internet.

Jpeg

Lalu pembicara terakhir adalah Said Muhammad Zaki. Dimulai dari membicarakan remaja teknologi. Banyak remaja sekarang yang sudah menggunakan smartphone dan mengakses internet. Di internet banyak terdapat situs, baik bersifat postif maupun negatif.

Remaja pun mulai mencari tahu tentang Kespro dengan memanfaatkan kemudahan mengakses internet. Sayangnya, tatkala mereka berselancar di dunia maya, para remaja juga mengakses situs yang negatif seperti situs pornografi.

Said Muhammad Zaki, owner infoPKU, mengatakan “saat ini pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam menuntaskan situs-situs pornografi, salah satunya dengan memblok situs tersebut, dengan adanya internet positif”.

Meski pemerintah berupaya memblok situs pornografi, kenyataannya bahwa situs-situs pornografi yang baru selalu bermunculan.

Menanggapi hal itu, pria kelahiran Bangkinang ini mengharapkan agar para remaja mampu memfilter dalam mencari segala informasi terkait kespro yang ada di internet.

Usai para pembicara menyampaikan materinya, maka seminar Remaja, Teknologi dan Remaja Kespro pun dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.

Jpeg

Kemudian acara dilanjutkan dengan launching aplikasi “sobat ask”. Aplikasi ini sangat berguna bagi remaja yang ingin lebih tahu tentang kespro dan dapat di download di Google Play Store.

Jadi para remaja kini tak perlu khawatir lagi salah mendapatkan informasi, cukup dengan mengakses ke situs www.sobatask.net.

Selesai launching aplikasi, para peserta seminar dikejutkan dengan kehadiran H. Firdaus, ST, MT, Walikota Pekanbaru.

Jpeg

Tidak banyak yang disampaikan oleh orang nomor satu di Pekanbaru ini pada acara yang dominasi oleh para remaja. Beliau berpesan kepada para peserta seminar untuk menjadi remaja yang berjiwa positif dan berakhlak.

Seraya beliau meninggalkan ruangan tersebut, para peserta seminar pun menyorakkan semangatnya lewat kalimat “kita hebat berani beraksi”.

Jpeg

Terakhir, acara seminar ditutup dengan pembagian sertifikat dan bracelet yang menandakan perlawanan terhadap penyakit HIV/AIDS, bukan pada penderitanya.