Mengenal Pahlawan Nasional Riau
Breaking News
Home » Melayu » Mengenal Pahlawan Nasional Riau

Mengenal Pahlawan Nasional Riau


Pada tanggal 10 November 75 tahun yang lalu, terjadi Pertempuran Surabaya yang mana para tentara dan milisi indonesia berperang melawan tentara Britania Raya dan Belanda. Sejak saat itu, tiap tanggal 10 November selalu diperingati sebagai hari Pahlawan Nasional.

Khusus di Riau, ada dua tokoh pejuang kemerdekaan yang telah mendapatkan gelar pahlawan nasional. Mereka adalah Sultan Syarif Qasim II yang berasal dari Siak Sri Indrapura dan Tuanku Tambusai yang berasal dari Rokan Hulu. Perjuangan mereka pun juga tak kalah heroik.

Tuanku Tambusai

tuanku-tambusai

Lahir di Dalu-dalu, Nagari Tambusai, Rokan Hulu, pada tanggal 5 November 1784. Pada masa kecilnya, Tuanku Tambusai bernama Muhammad Saleh. Namun setelah pulang haji, orang-orang memanggilnya dengan sebutan Tuanku Haji Muhammad Saleh.

Beliau merupakan pemimpin pasukan di daerah Dalu-dalu, Lubuk Sikaping, Padang Lawas, Angkola, Mandailing dan Natal yang berperang melawan Pasukan Kolonial Belanda. Selain itu, ia juga terkenal sebagai penyebar agama Islam.

Bersama-sama dengan Tuanku Imam Bonjol, beliau berjuang dalam perang Padri. Akibatnya ia dikenal dengan julukan “De Padrische Tijger van Rokan” (Harimau Padri dari Rokan), karena sangat sulit dikalahkan, pantang menyerah, serta tidak mau berdamai dengan Belanda.

Selama 15 tahun perjuangannya, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda. Sehingga VOC sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Bahkan berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan.

Namun pada tanggal 28 Desember 1838, benteng 7 lapis di Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda. Kemudian lewat pintu rahasia, beliau berhasil meloloskan diri dari kepungan Belanda bersama sekutunya. Ia akhirnya hijrah dan wafat di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia pada tanggal 12 November 1882.

Berkat perjuangannya tersebut, Pemerintah akhirnya mengangkat beliau menjadi pahlawan nasional melalui SK Pres: 071 /TK/1995 bertanggal 7-8-1995.

Sultan Syarif Qasim II

SultanSyarifKasimII

Beliau merupakan Sultan ke-12 atau yang terakhir dari kerajaan Siak Sri Indrapura. Ia lahir di Siak Sri Indrapura, pada tanggal 1 Desember 1893.

Ia dinobatkan sebagai Sultan Siak saat berumur 21 tahun menggantikan ayahnya, yakni Sultan Syarif Hasyim. Beliau sendiri merupakan salah seorang yang mendukung Perjuangan Kemerdekaan Indonesia.

Salah satu jasa beliau adalah tak lama setelah proklamasi kemerdekaan RI, dia menyatakan bahwa Kesultanan Siak Sri Indrapura merupakan bagian dari wilayah Indonesia.

Bahkan menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk Pemerintahan Republik Indonesia atau setara dengan 214,5 juta gulden (2014) atau 120,1 juta USD atau Rp 1,47 trilyun.  

Beliau bersama Sultan Serdang lah yang mendorong para raja yang ada di Sumatera Timur untuk mendukung serta mengintegrasikan diri dengan Republik Indonesia.

Beliau akhirnya meninggal dunia dengan usia 74 tahun di Rumbai, Pekanbaru, pada tanggal 23 April 1968. Namanya kini diabadikan menjadi Bandara Internasional di Kota Pekanbaru.

Atas perjuangannya tersebut Pemerintah RI akhirnya menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Syarif Kasim II melalui SK Pres: 109/TK/1998 bertanggal 6-11-1998.

About Said Zaki

hanya orang waras yang ngaku gila, karena tidak ada orang gila yang ngaku gila. yang ada orang gila ngaku waras, makanya jika ada orang ngaku waras, maka ia sudah gila