Penggunaan Sumur Bor, Demi Lingkungan & Kesehatan

0
1092
Penggunaan Sumur Bor

Penggunaan sumur bor menjadi pilihan utama masyarakat sebagai sumber air di sebagian besar wilayah Indonesia. Masyarakat menganggap bahwa sumur bor adalah sumber air yang praktis, terjangkau, dan mudah didapatkan.

Namun di balik itu terdapat dampak yang perlu kita pahami pada lingkungan dan kesehatan. Mari kita eksplorasi lebih dalam.

Jadi Alternatif Sumber Air

Sumur bor dibuat dengan teknologi khusus yang memungkinkan akses ke sumber air di lapisan bawah tanah. Penyedia jasa pembuatan sumur bor juga tidak sulit ditemukan.

Karena demikian, sumur bor telah menjadi alternatif utama terhadap sumber air lainnya. Statistik menunjukkan peningkatan signifikan penggunaan sumur bor di berbagai wilayah.

Keberadaan sumur bor memberikan akses lebih luas terhadap air bersih, terutama di daerah yang kesulitan mengakses infrastruktur air bersih. Daerah yang tidak memiliki akses air permukaan yang memadai, dan tidak terjangkau oleh penyedia layanan air bersih seperti PDAM akan menjadikan sumur bor menjadi sumber air mereka.

Amankah Dikonsumsi?

Masyarakat kebanyakan meyakini bahwa sumur bor merupakan solusi terbaik terhadap kebutuhan akan air bersih mereka. Namun seiring popularitasnya, muncul pula beberapa mitos, seperti anggapan bahwa air sumur bor selalu aman untuk dikonsumsi. Yang mana perlu kita kaji lebih dalam.

Efeknya Bagi Lingkungan

Penggunaan sumur bor yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan penurunan tingkat air tanah, mengganggu ekosistem air bawah tanah, serta meningkatkan risiko kontaminasi dan penurunan kualitas air. Di kawasan pantai akan berakibat intrusi air laut atau masuknya air laut ke daratan.

Jika dikaitkan dengan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), sumur bor bukan termasuk solusi yang dianjurkan. Karena kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh sumur bor akan berdampak buruk untuk generasi mendatang.

Selain risiko kerusakan lingkungan risiko kesehatan juga perlu diperhatikan. Air sumur bor yang terkontaminasi dapat membawa bakteri, logam berat, dan zat berbahaya lainnya yang berpotensi menyebabkan berbagai penyakit.

Kasus stunting terhadap anak yang dihadapi oleh Indonesia saat ini, juga disebabkan oleh sumber air tercemar seperti sumur bor yang terkontaminasi E-coli.

Beberapa faktor yang menyebabkan sumur bor terkontaminasi seperti konstruksi yang buruk, limbah industri, dan polusi lingkungan lainnya yang dapat dengan mudah mencemari air tanah.

Sebagian besar kondisi lingkungan indonesia belum memenuhi standar yang baik. Kondisi tersebut menguatkan bahwa air tanah yang diakses melalui sumur bor sudah tercemar.

Pengujian air secara rutin dan perawatan yang teratur adalah langkah krusial dalam meminimalkan risiko kontaminasi. Namun, hal tersebut belum mendapat perhatian khusus dari masyarakat.

Masyarakat kebanyakan jarang melakukan pengujian air mereka secara rutin. Perawatan sumur dilakukan hanya apabila terjadi masalah penyedotan air tanpa memperhatikan kondisi kualitas air.

Perlu Dukungan Semua Pihak

Untuk itu kolaborasi antara pemerintah, organisasi non-pemerintah, dan masyarakat sangat penting dalam mengatasi hal ini. Pemerintah diharapkan untuk segera melakukan pemerataan infrastruktur akanpenyedian air bersih melalui perpipaan.

Air bersih yang didistribusikan juga harus memenuhi standar layak konsumsi yang bebas dari kontaminasi bakteri dan zat berbahaya lainnya. Masyarakat yang daerahnya sudah terjangkau infrastruktur air bersih yang layak juga harus segera beralih dari sumur bor ke air perpipaan tersebut.

Hal tersebut juga harus dipertegas oleh pemerintah dengan cara mengeluarkan regulasi tentang larangan pembuatan sumur bor.

Demi Kelangsungan Ke Depan

Sumur bor sementara menjadi penyelamat juga membawa risiko bagi lingkungan dan kesehatan. Pendekatan holistik melalui pengujian, perawatan, edukasi, dan kolaborasi sangat penting untuk meminimalkan risiko tersebut.

Mari kita berhati-hati, melakukan tindakan preventif, dan bersama-sama menjaga kebersihan serta keamanan air yang kita konsumsi. Generasi kita bergantung pada kesadaran kita akan hal ini.

Data Penulis
Togu Maruli Risky Hutabarat
Mahasiswa Teknik Lingkungan Akademi Tirta Wiyata Magelang