Positif Covid19 Riau Tambah 559, Total Kasus Capai 76.832

184
Positif Covid19 Riau

Positif Covid19 Riau Hari Ini (Senin, 12/7/2021) bertambah sebanyak 559 kasus, pasien sembuh bertambah 496 kasus, dan 17 pasien yang meninggal dunia. Sehingga jumlah kasus terkonfirmasi Covid di Riau dari 76.273 kasus menjadi 76.832 kasus.

Dari jumlah Pasien Covid19 Riau Hari Ini, sebanyak 69.224 pasien positif Corona Riau yang telah sembuh dan pulang. 882 pasien positif Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakit, 4.654 orang isolasi mandiri, serta 2.072 pasien yang telah meninggal.

corona riau

Jumlah Suspek

Untuk jumlah suspek di Riau sebanyak 98.745 orang. Suspek yang isolasi di rumah sakit berjumlah 161 pasien, suspek yang telah selesai isolasi berjumlah 93.642 orang, dan suspek yang isolasi mandiri sebanyak 4.601 orang. Sedangkan suspek yang meninggal dunia berjumlah 341 orang.

Jumlah Spesimen

Sementara spesimen di Riau yang diperiksa sebanyak 2.003 spesimen, serta jumlah orang yang telah diperiksa 1.814 orang. Sehingga saat ini total spesimen swab yang telah diperiksa di Laboratorium Biomolekuler RSUD Arifin Achmad mencapai 395.767 sampel.

Tren Kasus Positif COVID-19 di Riau Melonjak, Gubri Ajak Masyarakat Tingkatkan Displin Prokes

Tren kasus konfirmasi positif COVID-19 di Provinsi Riau belakangan ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Atas kondisi itu Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar mengajak semua elemen masyarakat untuk lebih hati-hati dan terus meningkatkan disiplin protokol kesehatan (Prokes), karena dikhawatirkan di Riau ada varian Delta.

Untuk diketahui, kasus COVID-19 di Riau dalam beberapa hari di atas 500 kasus perhari. Padahal sebelumnya kasus di Riau di angka 200-300 orang perhari.

Peningkatan kasus dikhawatirkan ada penyebaran varian baru. Karena itu masyarakat diminta untuk waspada dan tetap mematuhi Prokes.

Gubri Ingin Pasien Dirawat di Fasilitas Milik Pemerintah 

Untuk mengurangi angka kematian, Gubri Syamsuar menginginkan pasien isolasi mandiri (isoman) dirawat di fasilitas milik pemerintah.

Hal ini agar masyarakat yang melakukan isolasi bisa dikontrol dengan baik oleh petugas kesehatan yang ada di tempat isolasi yang telah disediakan pemerintah, sehingga meningkatnya jumlah kasus meninggal akibat Covid-19 bisa diantisipasi.

“Kita tidak ingin ada kejadian seperti di Pulau Jawa bahwa ada masyarakat meninggal di rumah karena melakukan isolasi mandiri di rumah, susah mengontrol, tenaga medis tidak ada,” kata Gubri saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan PPKM Darurat dan Evaluasi PPKM Diperketat di Kota Pekanbaru yang berlangsung di Gedung Daerah Balai Serindit, Senin (12/7/2021).

Penumpang Pesawat ke Pekanbaru Wajib Perlihatkan PCR Negatif dan Bukti Vaksin 

Pemeriksaan hasil negatif swab PCR Covid-19 dan bukti telah divaksin minimal dosis pertama bagi penumpang yang ingin masuk ke Pekanbaru melalui Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru telah diberlakukan.

Pemberlakuan aturan ini dimulai sejak Surat Edaran (SE) Nomor 14 Tahun 2021 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri Dalam Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) diterbitkan, yang mana SE ini berlaku efektif mulai tanggal 3 Juli 2021.

Perwakilan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara SSK II Pekanbaru Hannif menyebutkan bahwa sejak terbitnya SE Nomor 14 Tahun 2021, pihaknya sudah melaksanakan pemeriksaan kepada penumpang yang datang ke Pekanbaru.

“Mulai dari memperlihatkan tes swab negatif PCR dan bukti telah divaksin minimal dosis pertama,” ujarnya saat mengikuti Rapat Koordinasi Terkait Persiapan PPKM Darurat dan Evaluasi PPKM Diperketat di Kota Pekanbaru yang berlangsung di Gedung Daerah Balai Serindit, Senin (12/7/2021).

Sebagai informasi, di Bandara Internasional SSK II Pekanbaru telah membuka tempat vaksinasi Covid-19 yang beroperasi setiap hari.

Petugas Medis Diminta Sering Pantau Kondisi Pasien Isolasi Mandiri

Pasien yang menjalani isolasi mandiri harus terus mendapatkan perhatian dari tim medis. Hal ini perlu dilakukan untuk mengatasi adanya pasien isoman yang meninggal dunia di rumah karena tiba-tiba mengalami gejala dan perburukan kondisi.

Untuk itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 di Riau, dr Indra Yovi meminta agar Puskesmas ataupun institusi kesehatan yang bertugas memantau pasien-pasien isoman, yang juga dibantu oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas, untuk selalu mengevaluasi dan memantau kondisi pasien isoman.

Sehingga apabila pasien isoman mengalami perburukan kondisi klinis dapat segera dirujuk ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan. Dengan demikian, kasus kematian pasien Covid-19 yang isoman di rumah dapat dicegah.

Alami Gejala Ini, Pasien Isolasi Mandiri COVID-19 Harus Segera Dirawat di Rumah Sakit

Lebih lanjut dr Yovi mengungkapkan, jika mengalami beberapa gejala di bawah ini untuk segera dirawat di rumah sakit.

Adapun beberapa gejalanya ialah, demam berkepanjangan meski sudah diberi obat. Kemudian batuk yang terus-menerus meski sudah minum obat.

Gejala selanjutnya yang membuat pasien COVID-19 tidak bisa isolasi mandiri di rumah yakni sesak nafas. Yang ditandai dengan dada terasa berat saat menarik dan melepas nafas.

“Kalau sudah ada beberapa gejala di atas, berarti harus segera melakukan perawatan di rumah sakit. Tidak bisa isolasi mandiri lagi,” ujarnya.

Usia 18-40 Tahun Dominan Terkonfirmasi Positif COVID-19

Kasus terkonfirmasi positif COVID-19 di Provinsi Riau hingga Senin (12/7/21), didominasi usia 18-40 tahun. Yang mana hingga kini telah tercatat 35.220 orang terkonfirmasi positif COVID-19 dari kelompok umur 18-40 tahun tersebut. Kemudian disusul kelompok umur 40-60 tahun sebanyak 24.070 orang atau 31,3 persen.

Sementara kelompok umur yang paling sedikit terkonfirmasi positif COVID-19 adalah usia 1-5 tahun, hingga kini baru terkonfirmasi sebanyak 2.669 orang atau 3,5 persen.

12 Balita di Riau Meninggal Dunia Akibat Covid-19

Angka kasus kematian akibat Covid-19 pada Bayi di bawah Lima Tahun (Balita) di Provinsi Riau masih tinggi. Hingga saat ini tercatat sudah ada 12 Balita di Riau yang meninggal dunia akibat Covid-19.

Balita memang memiliki imun yang rendah, sehingga mereka rawan terpapar Covid-19 dan akan sulit ditolong jika balita tersebut memiliki penyakit penyerta atau komorbid.

Angka kematian Balita akibat Covid-19 di Riau lebih tinggi jika dibandingkan kelompok anak-anak usia 5-18 tahun yang hanya ada 2 kasus.

Kasus kematian akibat Covid-19 paling tinggi ditemukan pada kelompok usia antara 40 sampai 60 tahun yang mencapai 1.034 orang.

Kemudian kelompok usia di atas 60 tahun juga rawan. Sejauh ini sudah ada 811 kasus kematian akibat Covid-19 yang terjadi pada kelompok usia di atas 60 tahun.

Sedangkan untuk kelompok usia 18-40 tahun ada 181 kasus, hingga saat ini total angka kematian akibat Covid-19 di Riau mencapai 2.040 kasus.