Home Blog Page 131

Mengenal Hipertensi Okuli

Orang awam mengenal hipertensi, adalah darah tinggi. Padahal ada banyak macamnya. Melalui tulisan ini yuk kita mengenal hipertensi okuli.

Menurut Para Ahli

Namun apa kata ahli? dr. Tengku Helena Ida Maria, Sp.M,MSc yang merupakan dokter Spesialis Mata Subspesialis Glaucoma Eye Centre, ternyata Hipertensi dalam tubuh manusia ada dua.

Yakni hipertensi sistemik di darah, dan hipertensi okuli di bola mata atau tekanan di bola mata. Hipertensi Okuli dikarenakan cairan di dalam mata banyak, dan saluranmya tersumbat, serta pengguna kaca mata minus tinggi.

Bukan Air Mata

Cairan yang ada di mata yang dimaksud itu bukan air mata, yang dimaksud adalah cairan pada bola mata. Jika air mata berfungsi melindungi bola mata, berbeda dengan cairan yang ada pada bola mata, yaitu sirkulasi darah di dalam tubuh.

Trauma seperti bola mata terpukul, ada goncangan di dalam mata sehingga sel-sel halus dalam bola mata tersumbat. Infeksi yang bolak-balik, sel radang akan menyumbat saluran keluar bola mata itu. Penggunaan bola mata yang tidak benar juga bisa mengakibatkan tekanan pada mata.

Gejala Hipertensi Okuli

Hipertensi okuli bisa ditandai dengan pusing yang hilang timbul. Namun juga terdapat tanda lain seperti minus mata yang terus bertambah, seperti penambahan minus yang terlalu sering dan penambahan minus juga semakin tinggi.

Kenali Sejak Dini

Pentingnya mengenal hipertensi okuli sejak dini, serta berkonsultasi dokter yang memahami kondisi hipertensi okuli akan memberikan penanganan yang tepat bagi pasien. Sehingga keterlambatan dalam pengobatan tidak terjadi.

Angka Sembuh Covid Riau Hari Ini 629, Total Kasus 124.170

Angka Sembuh Covid Riau Hari Ini (Jumat, 3/9/2021) bertambah 486 orang. Sementara itu kasus positif bertambah sebanyak 299 kasus, dan 26 pasien yang meninggal dunia. Sehingga jumlah kasus terkonfirmasi Covid di Riau menjadi 124.170 kasus.

Dari Kasus Positif Covid19 Riau Hari Ini, angka sembuh Covid Riau mencapai 115.931 orang. 549 pasien positif Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakit, 3.909 orang isolasi mandiri, serta 3.781 pasien yang telah meninggal.

corona riau

Jumlah Suspek

Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, untuk jumlah suspek di Riau sebanyak 106.288 orang. Suspek yang isolasi di rumah sakit berjumlah 114 pasien, suspek yang telah selesai isolasi berjumlah 101.648 orang, dan suspek yang isolasi mandiri sebanyak 4.081 orang. Sedangkan suspek yang meninggal dunia berjumlah 445 orang.

Jumlah Spesimen

Sementara dari Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, spesimen di Riau yang diperiksa sebanyak 3.263 spesimen. Untuk jumlah orang yang telah diperiksa 3.030 orang, sehingga saat ini total spesimen swab yang telah diperiksa di Laboratorium Biomolekuler RSUD Arifin Achmad mencapai 604.817 sampel.

Masyarakat Diminta Lebih Waspada, Varian Delta Sudah Ditemukan di Riau

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar meminta masyarakat agar lebih waspada. Pasalnya, saat ini COVID-19 varian Delta sudah ditemukan di Riau. Total ada enam orang yang terjangkit virus varian baru tersebut.

Enam orang yang terinfeksi varian Delta tersebut, lanjut Gubri, berasal dari Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Bengkalis. Bahkan dua diantaranya sudah meninggal dunia.

Gubernur Riau terus mengingatkan, agar masyarakat selalu waspada, patuh, dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, dengan melakukan 5 M. Hal ini untuk memutus penyebaran mata rantai COVID-19.

Gubri Ingin Pasien Dirawat di Fasilitas Milik Pemerintah 

Untuk mengurangi angka kematian, Gubri Syamsuar menginginkan pasien isolasi mandiri (isoman) dirawat di fasilitas milik pemerintah.

Hal ini agar masyarakat yang melakukan isolasi bisa dikontrol dengan baik oleh petugas kesehatan yang ada di tempat isolasi yang telah disediakan pemerintah, sehingga meningkatnya jumlah kasus meninggal akibat Covid-19 bisa diantisipasi.

“Kita tidak ingin ada kejadian seperti di Pulau Jawa bahwa ada masyarakat meninggal di rumah karena melakukan isolasi mandiri di rumah, susah mengontrol, tenaga medis tidak ada,” kata Gubri saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan PPKM Darurat dan Evaluasi PPKM Diperketat di Kota Pekanbaru yang berlangsung di Gedung Daerah Balai Serindit, Senin (12/7/2021).

Antisipasi Badai Sitokin, Ini Yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Juru bicara Satgas COVID-19 Riau, dr Indra Yovi, mengingatkan pasien COVID-19 terutama yang menjalani isolasi mandiri dirumah untuk mewaspadai badai sitokin.

Meskipun badai sitokin telah lama ditemukan di Riau, namun belakangan ini badai ini baru menjadi perbincangan masyarakat.

Dijelaskan dr Yovi, memang tidak semua pasien COVID-19 yang mengalami badai sitokin meninggal dunia. Karena kematian akibat badai sitokin tersebut bisa diantisipasi jika pasien langsung diberikan penangangan medis sebelum kondisinya memburuk.

Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu ditangani secara intensif, bila dibiarkan tanpa penanganan, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga menyebabkan kematian.

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Inilah yang disebut sebagai badai sitokin.

Alami Gejala Ini, Pasien Isolasi Mandiri COVID-19 Harus Segera Dirawat di Rumah Sakit

Lebih lanjut dr Indra Yovi mengungkapkan, jika mengalami beberapa gejala di bawah ini untuk segera dirawat di rumah sakit.

Adapun beberapa gejalanya ialah, demam berkepanjangan meski sudah diberi obat. Kemudian batuk yang terus-menerus meski sudah minum obat.

Gejala selanjutnya yang membuat pasien COVID-19 tidak bisa isolasi mandiri di rumah yakni sesak nafas. Yang ditandai dengan dada terasa berat saat menarik dan melepas nafas.

“Kalau sudah ada beberapa gejala di atas, berarti harus segera melakukan perawatan di rumah sakit. Tidak bisa isolasi mandiri lagi,” ujarnya.

Angka Sembuh Covid-19 Riau Hari Ini 486, Total Kasus 123.881

Angka Sembuh Covid-19 Riau Hari Ini (Kamis, 2/9/2021) bertambah 486 orang. Sementara itu kasus positif bertambah sebanyak 326 kasus, dan 18 pasien yang meninggal dunia. Sehingga jumlah kasus terkonfirmasi Covid di Riau menjadi 123.575 kasus.

Dari Kasus Positif Covid19 Riau Hari Ini, angka sembuh Covid19 Riau mencapai 115.318 orang. 609 pasien positif Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakit, 4.199 orang isolasi mandiri, serta 3.755 pasien yang telah meninggal.

corona riau

Jumlah Suspek

Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, untuk jumlah suspek di Riau sebanyak 105.577 orang. Suspek yang isolasi di rumah sakit berjumlah 114 pasien, suspek yang telah selesai isolasi berjumlah 101.128 orang, dan suspek yang isolasi mandiri sebanyak 3.890 orang. Sedangkan suspek yang meninggal dunia berjumlah 445 orang.

Jumlah Spesimen

Sementara dari Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, spesimen di Riau yang diperiksa sebanyak 3.376 spesimen. Untuk jumlah orang yang telah diperiksa 3.130 orang, sehingga saat ini total spesimen swab yang telah diperiksa di Laboratorium Biomolekuler RSUD Arifin Achmad mencapai 601.554 sampel.

Masyarakat Diminta Lebih Waspada, Varian Delta Sudah Ditemukan di Riau

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar meminta masyarakat agar lebih waspada. Pasalnya, saat ini COVID-19 varian Delta sudah ditemukan di Riau. Total ada enam orang yang terjangkit virus varian baru tersebut.

Enam orang yang terinfeksi varian Delta tersebut, lanjut Gubri, berasal dari Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Bengkalis. Bahkan dua diantaranya sudah meninggal dunia.

Gubernur Riau terus mengingatkan, agar masyarakat selalu waspada, patuh, dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, dengan melakukan 5 M. Hal ini untuk memutus penyebaran mata rantai COVID-19.

Gubri Ingin Pasien Dirawat di Fasilitas Milik Pemerintah 

Untuk mengurangi angka kematian, Gubri Syamsuar menginginkan pasien isolasi mandiri (isoman) dirawat di fasilitas milik pemerintah.

Hal ini agar masyarakat yang melakukan isolasi bisa dikontrol dengan baik oleh petugas kesehatan yang ada di tempat isolasi yang telah disediakan pemerintah, sehingga meningkatnya jumlah kasus meninggal akibat Covid-19 bisa diantisipasi.

“Kita tidak ingin ada kejadian seperti di Pulau Jawa bahwa ada masyarakat meninggal di rumah karena melakukan isolasi mandiri di rumah, susah mengontrol, tenaga medis tidak ada,” kata Gubri saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan PPKM Darurat dan Evaluasi PPKM Diperketat di Kota Pekanbaru yang berlangsung di Gedung Daerah Balai Serindit, Senin (12/7/2021).

Antisipasi Badai Sitokin, Ini Yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Juru bicara Satgas COVID-19 Riau, dr Indra Yovi, mengingatkan pasien COVID-19 terutama yang menjalani isolasi mandiri dirumah untuk mewaspadai badai sitokin.

Meskipun badai sitokin telah lama ditemukan di Riau, namun belakangan ini badai ini baru menjadi perbincangan masyarakat.

Dijelaskan dr Yovi, memang tidak semua pasien COVID-19 yang mengalami badai sitokin meninggal dunia. Karena kematian akibat badai sitokin tersebut bisa diantisipasi jika pasien langsung diberikan penangangan medis sebelum kondisinya memburuk.

Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu ditangani secara intensif, bila dibiarkan tanpa penanganan, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga menyebabkan kematian.

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Inilah yang disebut sebagai badai sitokin.

Alami Gejala Ini, Pasien Isolasi Mandiri COVID-19 Harus Segera Dirawat di Rumah Sakit

Lebih lanjut dr Indra Yovi mengungkapkan, jika mengalami beberapa gejala di bawah ini untuk segera dirawat di rumah sakit.

Adapun beberapa gejalanya ialah, demam berkepanjangan meski sudah diberi obat. Kemudian batuk yang terus-menerus meski sudah minum obat.

Gejala selanjutnya yang membuat pasien COVID-19 tidak bisa isolasi mandiri di rumah yakni sesak nafas. Yang ditandai dengan dada terasa berat saat menarik dan melepas nafas.

“Kalau sudah ada beberapa gejala di atas, berarti harus segera melakukan perawatan di rumah sakit. Tidak bisa isolasi mandiri lagi,” ujarnya.

Angka Sembuh Covid19 Riau Hari Ini 576, Total Kasus 123.575

Angka Sembuh Covid19 Riau Hari Ini (Rabu, 1/9/2021) bertambah 576 orang. Sementara itu kasus positif bertambah sebanyak 357 kasus, dan 23 pasien yang meninggal dunia. Sehingga jumlah kasus terkonfirmasi Covid di Riau menjadi 123.575 kasus.

Dari Kasus Positif Covid19 Riau Hari Ini, angka sembuh Covid19 Riau mencapai 114.840 orang. 631 pasien positif Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakit, 4.367 orang isolasi mandiri, serta 3.737 pasien yang telah meninggal.

corona riau

Jumlah Suspek

Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, untuk jumlah suspek di Riau sebanyak 105.082 orang. Suspek yang isolasi di rumah sakit berjumlah 119 pasien, suspek yang telah selesai isolasi berjumlah 100.788 orang, dan suspek yang isolasi mandiri sebanyak 3.731 orang. Sedangkan suspek yang meninggal dunia berjumlah 444 orang.

Jumlah Spesimen

Sementara dari Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, spesimen di Riau yang diperiksa sebanyak 3.571 spesimen. Untuk jumlah orang yang telah diperiksa 3.468 orang, sehingga saat ini total spesimen swab yang telah diperiksa di Laboratorium Biomolekuler RSUD Arifin Achmad mencapai 598.178 sampel.

Masyarakat Diminta Lebih Waspada, Varian Delta Sudah Ditemukan di Riau

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar meminta masyarakat agar lebih waspada. Pasalnya, saat ini COVID-19 varian Delta sudah ditemukan di Riau. Total ada enam orang yang terjangkit virus varian baru tersebut.

Enam orang yang terinfeksi varian Delta tersebut, lanjut Gubri, berasal dari Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Bengkalis. Bahkan dua diantaranya sudah meninggal dunia.

Gubernur Riau terus mengingatkan, agar masyarakat selalu waspada, patuh, dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, dengan melakukan 5 M. Hal ini untuk memutus penyebaran mata rantai COVID-19.

Gubri Ingin Pasien Dirawat di Fasilitas Milik Pemerintah 

Untuk mengurangi angka kematian, Gubri Syamsuar menginginkan pasien isolasi mandiri (isoman) dirawat di fasilitas milik pemerintah.

Hal ini agar masyarakat yang melakukan isolasi bisa dikontrol dengan baik oleh petugas kesehatan yang ada di tempat isolasi yang telah disediakan pemerintah, sehingga meningkatnya jumlah kasus meninggal akibat Covid-19 bisa diantisipasi.

“Kita tidak ingin ada kejadian seperti di Pulau Jawa bahwa ada masyarakat meninggal di rumah karena melakukan isolasi mandiri di rumah, susah mengontrol, tenaga medis tidak ada,” kata Gubri saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan PPKM Darurat dan Evaluasi PPKM Diperketat di Kota Pekanbaru yang berlangsung di Gedung Daerah Balai Serindit, Senin (12/7/2021).

Antisipasi Badai Sitokin, Ini Yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Juru bicara Satgas COVID-19 Riau, dr Indra Yovi, mengingatkan pasien COVID-19 terutama yang menjalani isolasi mandiri dirumah untuk mewaspadai badai sitokin.

Meskipun badai sitokin telah lama ditemukan di Riau, namun belakangan ini badai ini baru menjadi perbincangan masyarakat.

Dijelaskan dr Yovi, memang tidak semua pasien COVID-19 yang mengalami badai sitokin meninggal dunia. Karena kematian akibat badai sitokin tersebut bisa diantisipasi jika pasien langsung diberikan penangangan medis sebelum kondisinya memburuk.

Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu ditangani secara intensif, bila dibiarkan tanpa penanganan, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga menyebabkan kematian.

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Inilah yang disebut sebagai badai sitokin.

Alami Gejala Ini, Pasien Isolasi Mandiri COVID-19 Harus Segera Dirawat di Rumah Sakit

Lebih lanjut dr Indra Yovi mengungkapkan, jika mengalami beberapa gejala di bawah ini untuk segera dirawat di rumah sakit.

Adapun beberapa gejalanya ialah, demam berkepanjangan meski sudah diberi obat. Kemudian batuk yang terus-menerus meski sudah minum obat.

Gejala selanjutnya yang membuat pasien COVID-19 tidak bisa isolasi mandiri di rumah yakni sesak nafas. Yang ditandai dengan dada terasa berat saat menarik dan melepas nafas.

“Kalau sudah ada beberapa gejala di atas, berarti harus segera melakukan perawatan di rumah sakit. Tidak bisa isolasi mandiri lagi,” ujarnya.

Mengenal Badai Sitokin Pada Penderita COVID-19

0

Belakangan ini kita dihebohkan dengan istilah badai sitokin pada penderita COVID-19, melalui tulisan ini yuk kita mengenal badai sitokin.

Apa itu sitokin

Dikutip dari website alodokter, Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Inilah yang disebut sebagai badai sitokin.

Pengertian badai sitokin

Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu segera ditangani secara intensif.

Bila dibiarkan tanpa penanganan, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga kematian. Untuk itu biasanya penderita badai sitokin perlu penanganan intensif.

Gejala badai sitokin

Dari beberapa sumber menyebutkan bahwa badai sitokin ini memiliki gejala yang berbeda-beda tergantung dari individunya, bisa jadi bergejala ringan atau bahkan gejalanya berat.

Berikut beberapa gejala badai sitokin pada penderita COVID-19 yaitu:

  • Demam dan kedinginan
  • Kelelahan
  • Pembengkakan ekstremitas
  • Mual dan muntah
  • Sakit otot dan sendi
  • Sakit kepala
  • Ruam
  • Batuk
  • Sesak napas
  • Napas cepat
  • Kejang
  • Getaran
  • Kesulitan mengkoordinasikan gerakan Kebingungan dan halusinasi
  • Kelesuan dan respons yang buruk

Selain itu, tekanan darah yang sangat rendah dan peningkatan pembekuan darah juga bisa menjadi gejala kemunculan sindrom badai sitokin yang parah. Jantung mungkin tidak memompa sebaik biasanya.

Akibatnya badai sitokin dapat mempengaruhi beberapa sistem organ sehingga berpotensi menyebabkan kegagalan organ dan kematian.

Penanganan badai sitokin

Nah setelah mengenal badai sitokin tadi, sekarang kita akan membahas beberapa langkah penanganannya.

Untuk menghindari terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan termasuk terjadinya badai sitokin, maka Encik dan Puan disarankan untuk segera berkonsultasi ke dokter setelah dinyatakan positif COVID-19.

Kebanyakan penderita COVID-19 yang mengalami badai sitokin ini akan dirawat di ICU dengan perawatan intensif dari dokter.

Adapun beberapa langkah penanganan yang akan dilakukan dokter yaitu:

  • Pemantauan tanda-tanda vital, yang meliputi tekanan darah, denyut nadi, pernapasan, dan suhu tubuh, secara intensif
  • Pemasangan mesin ventilator
  • Pemberian cairan melalui infus
  • Pemantauan kadar elektrolit
  • Cuci darah (hemodialisis)
  • Pemberian obat anakinra atau tocilizumab (actemra) untuk menghambat aktivitas sitokin

Meski demikian, karena ini kasus baru di Indonesia, masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai badai sitokin ini terhadap penderita COVID-19.

Namun yang jelas sudah banyak kasus akibat badai sitokin ini mengakibatkan kerusakan organ bagi si penderita bahkan dapat mengancam nyawa.

Untuk itu, Encik dan Puan tetap disarankan untuk selalu menerapkan protokol kesehatan untuk menghindari penularan COVID-19 dan memutus mata rantai penularannya.

Disamping itu, bila ada gejala mengarah pada gejala COVID-19, disarankan untuk segera melakukan isolasi mandiri dan berkonsultasi dengan dokter.

Angka Sembuh Covid 19 Riau Hari Ini 710, Total Kasus 123.233

Angka Sembuh Covid 19 Riau Hari Ini (Selasa, 31/8/2021) bertambah 719 orang. Sementara itu kasus positif bertambah sebanyak 438 kasus, dan 30 pasien yang meninggal dunia. Sehingga jumlah kasus terkonfirmasi Covid di Riau menjadi 123.233 kasus.

Dari Kasus Positif Covid19 Riau Hari Ini, angka sembuh Covid 19 Riau mencapai 114.272 orang. 665 pasien positif Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakit, 4.582 orang isolasi mandiri, serta 3.714 pasien yang telah meninggal.

corona riau

Jumlah Suspek

Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, untuk jumlah suspek di Riau sebanyak 103.984 orang. Suspek yang isolasi di rumah sakit berjumlah 128 pasien, suspek yang telah selesai isolasi berjumlah 100.003 orang, dan suspek yang isolasi mandiri sebanyak 3.412 orang. Sedangkan suspek yang meninggal dunia berjumlah 441 orang.

Jumlah Spesimen

Sementara dari Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, spesimen di Riau yang diperiksa sebanyak 3.820 spesimen. Untuk jumlah orang yang telah diperiksa 3.627 orang, sehingga saat ini total spesimen swab yang telah diperiksa di Laboratorium Biomolekuler RSUD Arifin Achmad mencapai 594.607 sampel.

Masyarakat Diminta Lebih Waspada, Varian Delta Sudah Ditemukan di Riau

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar meminta masyarakat agar lebih waspada. Pasalnya, saat ini COVID-19 varian Delta sudah ditemukan di Riau. Total ada enam orang yang terjangkit virus varian baru tersebut.

Enam orang yang terinfeksi varian Delta tersebut, lanjut Gubri, berasal dari Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Bengkalis. Bahkan dua diantaranya sudah meninggal dunia.

Gubernur Riau terus mengingatkan, agar masyarakat selalu waspada, patuh, dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, dengan melakukan 5 M. Hal ini untuk memutus penyebaran mata rantai COVID-19.

Gubri Ingin Pasien Dirawat di Fasilitas Milik Pemerintah 

Untuk mengurangi angka kematian, Gubri Syamsuar menginginkan pasien isolasi mandiri (isoman) dirawat di fasilitas milik pemerintah.

Hal ini agar masyarakat yang melakukan isolasi bisa dikontrol dengan baik oleh petugas kesehatan yang ada di tempat isolasi yang telah disediakan pemerintah, sehingga meningkatnya jumlah kasus meninggal akibat Covid-19 bisa diantisipasi.

“Kita tidak ingin ada kejadian seperti di Pulau Jawa bahwa ada masyarakat meninggal di rumah karena melakukan isolasi mandiri di rumah, susah mengontrol, tenaga medis tidak ada,” kata Gubri saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan PPKM Darurat dan Evaluasi PPKM Diperketat di Kota Pekanbaru yang berlangsung di Gedung Daerah Balai Serindit, Senin (12/7/2021).

Antisipasi Badai Sitokin, Ini Yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Juru bicara Satgas COVID-19 Riau, dr Indra Yovi, mengingatkan pasien COVID-19 terutama yang menjalani isolasi mandiri dirumah untuk mewaspadai badai sitokin.

Meskipun badai sitokin telah lama ditemukan di Riau, namun belakangan ini badai ini baru menjadi perbincangan masyarakat.

Dijelaskan dr Yovi, memang tidak semua pasien COVID-19 yang mengalami badai sitokin meninggal dunia. Karena kematian akibat badai sitokin tersebut bisa diantisipasi jika pasien langsung diberikan penangangan medis sebelum kondisinya memburuk.

Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu ditangani secara intensif, bila dibiarkan tanpa penanganan, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga menyebabkan kematian.

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Inilah yang disebut sebagai badai sitokin.

Alami Gejala Ini, Pasien Isolasi Mandiri COVID-19 Harus Segera Dirawat di Rumah Sakit

Lebih lanjut dr Indra Yovi mengungkapkan, jika mengalami beberapa gejala di bawah ini untuk segera dirawat di rumah sakit.

Adapun beberapa gejalanya ialah, demam berkepanjangan meski sudah diberi obat. Kemudian batuk yang terus-menerus meski sudah minum obat.

Gejala selanjutnya yang membuat pasien COVID-19 tidak bisa isolasi mandiri di rumah yakni sesak nafas. Yang ditandai dengan dada terasa berat saat menarik dan melepas nafas.

“Kalau sudah ada beberapa gejala di atas, berarti harus segera melakukan perawatan di rumah sakit. Tidak bisa isolasi mandiri lagi,” ujarnya.

Eye Center Awal Bros Resmi Hadir di Pekanbaru

Satu lagi layanan kesehatan mata di Pekanbaru hadir, yakni Eye Center Awal Bros. Rumah Sakit (RS) Awal Bros Pekanbaru kembali berinovasi dengan melakukan pengembangan layanan.

Tepat sehari sebelum perayaan ulang tahunnya ke-23, RS Awal Bros meluncurkan layanan Eye Center Pusat Layanan Mata Terpadu, Sabtu (28/8/2021).

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Informasi Pekanbaru Riau (@infopku_)

Hadir dengan layanan kesehatan mata yang lengkap

Mata merupakan salah satu indera penting, untuk itu Eye Center Awal Bros hadir dengan layanan kesehatan yang lengkap dan profesional.

Dengan alat-alat yang lengkap dan modern, serta Dokter Sub Spesialis Mata yang lengkap, layanan ini diharapkan menjadi pusat rujukan mata di Sumatera bahkan di Indonesia.

Bahkan layanan mata milik RS Awal Bros ini memiliki kekhususan sub spesialis mulai dari Retina, Glaukoma, Mata Anak, hingga Infeksi dan Immunologi.

Menerima bermacam metode pembayaran

Terkait pembayarannya, Encik dan Puan tak perlu khawatir. Karena Eye Center ini menerima berbagai macam metode pembayaran. Mulai dari umum, BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, jaminan Asuransi, dan Perusahaan.

Gelar Webinar Nasional

Bersempena dengan peresmiannya, RS Awal Bros juga menggelar Webinar Nasional yang bertajuk Pencegahan Kebutaan.

Webinar ini sendiri menjadi ajang edukasi dalam penanganan awal gangguan pada mata dan diharapkan dapat mengurangi cacat dan rasa sakit.

Kebutaan merupakan salah satu komplikasi gangguan pada mata yang menjadi momok menakutkan bagi penderitanya. Turut hadir dalam webinar ini, para dokter dan praktisi kesehatan yang ada di Indonesia.

 

 

Pasien Sembuh Covid 19 Riau Hari Ini 719, Total Kasus 122.805

Pasien Sembuh Covid 19 Riau Hari Ini (Senin, 30/8/2021) bertambah 719 orang. Sementara itu kasus positif bertambah sebanyak 451 kasus, dan 18 pasien yang meninggal dunia. Sehingga jumlah kasus terkonfirmasi Covid di Riau menjadi 122.805 kasus.

Dari Kasus Positif Covid19 Riau Hari Ini, sebanyak 113.579 pasien sembuh Covid 19 Riau yang telah sembuh dan pulang. 693 pasien positif Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakit, 4.849 orang isolasi mandiri, serta 3.684 pasien yang telah meninggal.

corona riau

Jumlah Suspek

Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, untuk jumlah suspek di Riau sebanyak 103.961 orang. Suspek yang isolasi di rumah sakit berjumlah 132 pasien, suspek yang telah selesai isolasi berjumlah 99.979 orang, dan suspek yang isolasi mandiri sebanyak 3.412 orang. Sedangkan suspek yang meninggal dunia berjumlah 438 orang.

Jumlah Spesimen

Sementara dari Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, spesimen di Riau yang diperiksa sebanyak 2.282 spesimen. Untuk jumlah orang yang telah diperiksa 2.135 orang, sehingga saat ini total spesimen swab yang telah diperiksa di Laboratorium Biomolekuler RSUD Arifin Achmad mencapai 590.787 sampel.

Masyarakat Diminta Lebih Waspada, Varian Delta Sudah Ditemukan di Riau

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar meminta masyarakat agar lebih waspada. Pasalnya, saat ini COVID-19 varian Delta sudah ditemukan di Riau. Total ada enam orang yang terjangkit virus varian baru tersebut.

Enam orang yang terinfeksi varian Delta tersebut, lanjut Gubri, berasal dari Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Bengkalis. Bahkan dua diantaranya sudah meninggal dunia.

Gubernur Riau terus mengingatkan, agar masyarakat selalu waspada, patuh, dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, dengan melakukan 5 M. Hal ini untuk memutus penyebaran mata rantai COVID-19.

Gubri Ingin Pasien Dirawat di Fasilitas Milik Pemerintah 

Untuk mengurangi angka kematian, Gubri Syamsuar menginginkan pasien isolasi mandiri (isoman) dirawat di fasilitas milik pemerintah.

Hal ini agar masyarakat yang melakukan isolasi bisa dikontrol dengan baik oleh petugas kesehatan yang ada di tempat isolasi yang telah disediakan pemerintah, sehingga meningkatnya jumlah kasus meninggal akibat Covid-19 bisa diantisipasi.

“Kita tidak ingin ada kejadian seperti di Pulau Jawa bahwa ada masyarakat meninggal di rumah karena melakukan isolasi mandiri di rumah, susah mengontrol, tenaga medis tidak ada,” kata Gubri saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan PPKM Darurat dan Evaluasi PPKM Diperketat di Kota Pekanbaru yang berlangsung di Gedung Daerah Balai Serindit, Senin (12/7/2021).

Antisipasi Badai Sitokin, Ini Yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Juru bicara Satgas COVID-19 Riau, dr Indra Yovi, mengingatkan pasien COVID-19 terutama yang menjalani isolasi mandiri dirumah untuk mewaspadai badai sitokin.

Meskipun badai sitokin telah lama ditemukan di Riau, namun belakangan ini badai ini baru menjadi perbincangan masyarakat.

Dijelaskan dr Yovi, memang tidak semua pasien COVID-19 yang mengalami badai sitokin meninggal dunia. Karena kematian akibat badai sitokin tersebut bisa diantisipasi jika pasien langsung diberikan penangangan medis sebelum kondisinya memburuk.

Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu ditangani secara intensif, bila dibiarkan tanpa penanganan, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga menyebabkan kematian.

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Inilah yang disebut sebagai badai sitokin.

Alami Gejala Ini, Pasien Isolasi Mandiri COVID-19 Harus Segera Dirawat di Rumah Sakit

Lebih lanjut dr Indra Yovi mengungkapkan, jika mengalami beberapa gejala di bawah ini untuk segera dirawat di rumah sakit.

Adapun beberapa gejalanya ialah, demam berkepanjangan meski sudah diberi obat. Kemudian batuk yang terus-menerus meski sudah minum obat.

Gejala selanjutnya yang membuat pasien COVID-19 tidak bisa isolasi mandiri di rumah yakni sesak nafas. Yang ditandai dengan dada terasa berat saat menarik dan melepas nafas.

“Kalau sudah ada beberapa gejala di atas, berarti harus segera melakukan perawatan di rumah sakit. Tidak bisa isolasi mandiri lagi,” ujarnya.

Sembuh Covid19 Riau Hari Ini 1.141, Total Kasus 122.565

Pasien Sembuh Covid19 Riau Hari Ini (Minggu, 29/8/2021) bertambah 1.141 orang. Sementara itu kasus positif bertambah sebanyak 451 kasus, dan 24 pasien yang meninggal dunia. Sehingga jumlah kasus terkonfirmasi Covid di Riau menjadi 122.565 kasus.

Dari Kasus Positif Covid19 Riau Hari Ini, sebanyak 112.867 pasien sembuh Covid-19 Riau yang telah sembuh dan pulang. 702 pasien positif Covid-19 yang masih dirawat di rumah sakit, 5.330 orang isolasi mandiri, serta 3.666 pasien yang telah meninggal.

corona riau

Jumlah Suspek

Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, untuk jumlah suspek di Riau sebanyak 103.948 orang. Suspek yang isolasi di rumah sakit berjumlah 136 pasien, suspek yang telah selesai isolasi berjumlah 99.963 orang, dan suspek yang isolasi mandiri sebanyak 3.412 orang. Sedangkan suspek yang meninggal dunia berjumlah 437 orang.

Jumlah Spesimen

Sementara dari Kasus Positif Covid-19 Riau Hari Ini, spesimen di Riau yang diperiksa sebanyak 3.290 spesimen. Untuk jumlah orang yang telah diperiksa 2.987 orang, sehingga saat ini total spesimen swab yang telah diperiksa di Laboratorium Biomolekuler RSUD Arifin Achmad mencapai 588.505 sampel.

Masyarakat Diminta Lebih Waspada, Varian Delta Sudah Ditemukan di Riau

Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar meminta masyarakat agar lebih waspada. Pasalnya, saat ini COVID-19 varian Delta sudah ditemukan di Riau. Total ada enam orang yang terjangkit virus varian baru tersebut.

Enam orang yang terinfeksi varian Delta tersebut, lanjut Gubri, berasal dari Kota Pekanbaru, Kabupaten Siak dan Bengkalis. Bahkan dua diantaranya sudah meninggal dunia.

Gubernur Riau terus mengingatkan, agar masyarakat selalu waspada, patuh, dan disiplin menerapkan protokol kesehatan, dengan melakukan 5 M. Hal ini untuk memutus penyebaran mata rantai COVID-19.

Gubri Ingin Pasien Dirawat di Fasilitas Milik Pemerintah 

Untuk mengurangi angka kematian, Gubri Syamsuar menginginkan pasien isolasi mandiri (isoman) dirawat di fasilitas milik pemerintah.

Hal ini agar masyarakat yang melakukan isolasi bisa dikontrol dengan baik oleh petugas kesehatan yang ada di tempat isolasi yang telah disediakan pemerintah, sehingga meningkatnya jumlah kasus meninggal akibat Covid-19 bisa diantisipasi.

“Kita tidak ingin ada kejadian seperti di Pulau Jawa bahwa ada masyarakat meninggal di rumah karena melakukan isolasi mandiri di rumah, susah mengontrol, tenaga medis tidak ada,” kata Gubri saat memimpin Rapat Koordinasi Persiapan PPKM Darurat dan Evaluasi PPKM Diperketat di Kota Pekanbaru yang berlangsung di Gedung Daerah Balai Serindit, Senin (12/7/2021).

Antisipasi Badai Sitokin, Ini Yang Harus Dilakukan Pasien COVID-19

Juru bicara Satgas COVID-19 Riau, dr Indra Yovi, mengingatkan pasien COVID-19 terutama yang menjalani isolasi mandiri dirumah untuk mewaspadai badai sitokin.

Meskipun badai sitokin telah lama ditemukan di Riau, namun belakangan ini badai ini baru menjadi perbincangan masyarakat.

Dijelaskan dr Yovi, memang tidak semua pasien COVID-19 yang mengalami badai sitokin meninggal dunia. Karena kematian akibat badai sitokin tersebut bisa diantisipasi jika pasien langsung diberikan penangangan medis sebelum kondisinya memburuk.

Badai sitokin merupakan salah satu komplikasi yang bisa dialami oleh penderita COVID-19. Kondisi ini perlu diwaspadai dan perlu ditangani secara intensif, bila dibiarkan tanpa penanganan, badai sitokin dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ hingga menyebabkan kematian.

Sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi.

Namun, jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh. Inilah yang disebut sebagai badai sitokin.

Alami Gejala Ini, Pasien Isolasi Mandiri COVID-19 Harus Segera Dirawat di Rumah Sakit

Lebih lanjut dr Indra Yovi mengungkapkan, jika mengalami beberapa gejala di bawah ini untuk segera dirawat di rumah sakit.

Adapun beberapa gejalanya ialah, demam berkepanjangan meski sudah diberi obat. Kemudian batuk yang terus-menerus meski sudah minum obat.

Gejala selanjutnya yang membuat pasien COVID-19 tidak bisa isolasi mandiri di rumah yakni sesak nafas. Yang ditandai dengan dada terasa berat saat menarik dan melepas nafas.

“Kalau sudah ada beberapa gejala di atas, berarti harus segera melakukan perawatan di rumah sakit. Tidak bisa isolasi mandiri lagi,” ujarnya.

Jika Status Darurat Covid Dicabut

0

Bagaimana jika status darurat Covid dicabut. Pertanyaan ini sering terlintas di pikiran. Dalam kurun waktu dua tahun, segala sesuatu yang normal dalam kehidupan benar-benar berubah.

Segala sesuatu yang dianggap normal terlihat sangat mengkhawatirkan. Seperti berkumpul, beribadah berjamaah, acara pernikahan, pembelajaran, bahkan sekedar untuk membeli makanan.

Segala sesuatu yang awalnya biasa, dalam masa pandemi ini, menjadi hal yang bahkan diatur dengan rinci. Dari pedagang kaki lima hingga store-store di pusat perbelanjaan besar terus merasakan kerugian, dari waktu sekolah, kuliah hingga bekerja, bahkan sulit untuk sekedar bertatap muka.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Informasi Pekanbaru Riau (@infopku_)

Situasi yang penuh dengan harapan, doa, dan perjuangan ini statusnya bisa saja dicabut dari status darurat. Namun, apakah ada perbedaannya?

Ahli Epidemiologi Provinsi Riau, dr Wildan Hasibuan menjelaskan terkait dengan kemungkinan berubahnya status darurat covid ini menjadi endemis.

“Apa itu endemis? Endemis, gaya hidup baru, hidup bersama covid. Ke mana pun prokes harus tetap jalan. Karena akan tetap ditemukan kasus covid, namun tidak seberbahaya sekarang,” ungkapnya, Senin (23/8/2021).

Keadaan ini bisa saja diwujudkan pada tahun depan. Jika status darurat covid-19 dicabut. Namun, diprediksi kehidupan belum bisa sepenuhnya berubah.

Kita masih akan menggunakan masker, mencuci tangan, dan mungkin saja fasilitas swab PCR atau antigen covid akan menjadi gaya hidup baru di kemudian hari.

Suatu tantangan pada kehidupan, yang membutuhkan optimisme pada diri kita untuk bisa melewati pandemi ini.