Semangat Dalam Hidup, Ini Cara Menemukannya

27
Semangat Dalam Hidup

Terkadang yang kita butuhkan hanyalah kata-kata motivasi hidup dari orang-orang terpercaya agar tetap semangat dalam hidup.

Melalui tulisan ini, kita akan belajar dari Simon Sinek. Ia merupakan seorang pembicara sekaligus penulis buku yang cukup digemari untuk pengusaha di seluruh dunia. Bukunya yang paling banyak dibaca adalah “Start With Why” dan “Find Your Why“.

Pelajari 5 Hal ini Untuk Menemukan Semangat Dalam Hidup

Ada 5 hal yang cukup sederhana yang disampaikan Simon Sinek untuk bisa membakar semangat dalam hidup.

  • Kejar Apa Yang Diinginkan

Yang Pertama, kita harus mengejar apa yang kita inginkan. Dalam sebuah acara marathon, terdapat satu antrian panjang untuk mendapatkan smoothies buah segar gratis.

Ada dua orang yang sedang berdiskusi, satu orang bilang dia mengantri untuk smoothies ini karena sehat dan enak. Tapi satu orang lagi menyebut bahwa antriannya terlalu panjang, itu akan melelahkan.

Keduanya sama-sama menginginkan smoothies ini. Namun perbedaannya, yang satu fokus pada smoothies-nya tanpa memikirkan tentang antrian. Sedangkan yang satu lagi hanya fokus pada antriannya.

Demi mendapatkan apa yang kita inginan, kita seharusnya hanya fokus pada tujuannya bukan pada rintangannya. Apa yang saat ini Encik dan Puan inginkan? Kejarlah sembari tetap berdoa.

  • Masalahnya Ada di Diri Sendiri

Yang Kedua, terkadang masalah ada pada kita. Dalam abad ke-18, terdapat sesuatu yang menyebar di Eropa. Kala itu disebut dengan black death of childbed atau wabah mengerikan saat melahirkan.

Kejadian kala itu ketika seorang perempuan melahirkan maka mereka akan meninggal dalam waktu 48 jam. Hal ini menyebabkan kekacauan di Eropa dan terus terjadi semakin buruk lebih dari satu abad.

Demi mengurangi hal ini, ilmuwan mulai mempelajarinya dengan mengautopsi mayat perempuan yang sudah meninggal. Pagi hari mereka mengautopsi sore hari kembali melakukan persalinan.

Di tahun 1800-an kemudian dr. Oliver Wendell Holmes menyadari bahwa dokter yang melakukan autopsi di pagi hari tidak mencuci tangannya ketika membantu proses persalinan.

“Kalian adalah masalahnya,” ujarnya.

Tapi tidak ada satupun kala itu yang menggubris. Setelah 30 tahun ada yang menyadari, para dokter mulai mencuci tangan dan mensterilkan alat dan wabah mengerikan ini benar-benar hilang.

Pelajarannya adalah, terkadang kita merupakan masalahnya. Kita harus bisa mengambil tanggung jawab jika kita bisa menerima pujian. Keduanya harus kita ambil dan tidak bisa hanya mengambil salah satunya.

  • Peduli

Yang ketiga, peduli dengan orang lain. Amerika Serikat bisa disebutkan sebagai negara yang memiliki pasukan elit di seluruh dunia.

Banyak dari mereka ketika ditanya siapa yang bisa lolos untuk menjadi bagian pasukan ini, ada yang menjawab, “Aku tidak bisa menjawab pertanyaan ini, tapi aku bisa menjawab mereka yang tidak lolos”.

“Mereka yang tidak lolos kebanyakan yang berbadan besar dan bertato yang ingin menunjukan kekuatan mereka kepada orang lain. Atau mereka yang berlagak seperti pemimpin, tapi melemparkan tanggung jawab kepada bawahannya. Tidak ada yang berhasil.”

Ternyata kebanyakan para tentara ini bisa lolos ketika mereka dihabisi secara mental, dihabisi secara fisik tapi masih bisa menolong teman di sebelahnya. Bahkan untuk menjadi pasukan elit di dunia tidak begitu membutuhkan kuat dan cerdas.

Tapi bagaimana kita bisa saling membantu di dunia yang berbahaya ini. Karena ketika kita bisa mempelajari kapan kita harus membantu orang, dan kapan kita bisa meminta bantuan orang lain adalah pelajaran paling berharga.

  • Berbicara di Waktu Terakhir

Pelajaran yang keempat, berlatih untuk berbicara terakhir. Sempat diceritakan oleh pemimpin hebat Nelson Mandela kenapa ia bisa sampai pada prestasi terbaiknya, hal itu karena ia selalu belajar untuk berbicara terakhir.

Kita sering diajarkan untuk menjadi pendengar yang baik, namun ternyata hal terbaik adalah ketika kita bisa menjadi orang yang berbicara di waktu terakhir. Jika kita memiliki pendapat, sebaiknya simpan dan dengarkan pendapat orang lain terlebih dahulu, hal ini bisa memberikan dua hal lainnya.

Kita bisa membuat orang merasa didenqarkan dan berkontribusi, serta sebelum kita berpendapat kita bisa mempelajari cara pandang dari orang tersebut. Latihan menjadi yang terakhir saat berbicara adalah apa yang dilakukan oleh Nelson Mandela.

  • Rendah Hati

Yang terakhir merupakan pelajaran favorit, bahwa apapun fasilitas yang kita miliki rendah hatilah. Karena terkadang itu ditujukan bukan untuk kita.

Ini rangkuman cerita tentang Wakil Menteri Pemerintahan di salah satu negara. Saat ia masih menjabat, fasilitas yang didapatkan saat menghadiri suatu seminar sangat luar biasa, dijemput, diantar, bahkan kopi yang sediakan dengan gelas keramik yang mahal.

Namun kemudian ia kembali mengisi seminar yang sama, tapi tidak lagi menjabat sebagai Wakil Menteri, tidak ada lagi fasilitas jemputan. Bahkan ketika ia meminta segelas kopi, seseorang menunjuk kepada kopi di sudut ruangan yang menggunakan gelas styrofoam.

Kita bisa menikmati semua fasilitas yang kita dapatkan, senioritas yang kita miliki, jabatan yang sedang kita pegang. Tapi ingat itu semua bukan untuk kita melainkan hanya untuk jabatan kita, jadi rendah hatilah.