Sejarah Petang Megang, Tradisi Sambut Ramadhan

1243
Sejarah Petang Megang

Tradisi Petang Megang merupakan tradisi budaya melayu Pekanbaru dalam menyambut datangnya bulan ramadhan. Berikut sejarah Petang Megang.

Sejak Zaman Kerajaan Siak

Sebelum seperti saat ini, Petang Megang sudah ada sejak zaman pemerintahan Kerajaan Siak Sri Indrapura yang waktu itu pusat pemerintahannya terletak di Bandar “Senapelan”.

Inti dari tradisi Petang Megang ini, adalah Mandi Balimau. Pada ritual inti ini terdapat 20 orang laki-laki dan perempuan yang akan masuk ke dalam Sungai Siak.

Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat Pekanbaru membersihkan diri dari berbagai kotoran dan hal-hal buruk sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Sempat Hilang

Meskipun tradisi ini telah turun temurun selama beratus tahun lamanya, ternyata tradisi petang megang sempat menghilang pada tahun 1970-an.

Diantara penyebabnya adalah perkawinan silang antara suku lain, yang kemudian memicu punahnya tradisi petang megang ini.

Kondisi Sungai Siak mulai kotor dan tercemar juga menyebabkan tak ada lagi warga yang mau menjalani ritual petang megang.

Karena kondisi tersebut, membuat berubahnya tradisi ini. Seperti yang selama ini dilakukan di tepian sungai Siak, jadinya hanya bisa ditemui di setiap rumah-rumah orang Melayu.

Muncul Kembali

Namun pada tahun 1993, tradisi ini kembali dihidupkan oleh beberapa tokoh masyarakat Pekanbaru. Kemudian disambut oleh masyarakat melayu yang bermukim di kawasan Tanjung Rhu.

Acara hasil swadaya masyarakat ini kemudian terus dipertahankan hingga tahun 2000. Lalu barulah pada tahun 2001, Pemko Pekanbaru memasukkan acara ini dalam agenda tahunan. Setelah tahun 2000, kegiatan ini beralih ke Jembatan Siak I.

Dinantikan Masyarakat

Petang Megang sendiri sangat dinantikan oleh masyarakat. Mereka kemudian membuat beraneka macam kue, serta masakan khas melayu yang dikemas dalam bentuk wadah seperti tabak (khas Indragiri Hulu) yang diisi dengan telur dan makanan lain kemudian dihias sedemikian rupa dan diarak keliling hingga ke Sungai Siak.

Untuk Membersihkan Diri

Untuk mandi balimau sendiri digunakan air limau. Adapun air rebusan yang digunakan untuk Mandi Belimau nantinya terdiri dari air rebusan limau purut dicampur dengan serai wangi, ako siak-siak, daun nilam, mayang pinang, lalu dilengkapi dengan irisan bunga rampai.

Air belimau ini kemudian digunakan untuk menyiram diri sebagai pembersih. Secara turun temurun, air limau diyakini sebagai upaya orang tua-tua terdahulu untuk membersihkan diri dari kotaran-kotoran.

Baik itu kotoran yang terlihat (debu yang melekat tubuh), atau pun kotoran yang tidak terlihat (dosa).

Demikian Sejarah Petang Megang, sebuah tradisi masyarakat melayu Kota Pekanbaru dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan.