Pameran Museum Se-Sumatera di Pekanbaru

194
Pameran Museum Se-Sumatera di Pekanbaru

Provinsi Riau menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pameran Museum Se-Sumatera di Pekanbaru yang berlangsung mulai dari tanggal 26 September hingga tanggal 24 Oktober mendatang.

Nah bagi Encik dan Puan yang ingin melihat Pameran Museum Se-Sumatera tersebut bisa berkunjung ke Museum Sang Nila Utama yang ada di Jalan Sudirman Pekanbaru.

Persis di belakang museum Sang Nila Utama, saat ini tengah diadakan pameran museum se Sumatera. Ada delapan provinsi yang berkontribusi dalam pameran ini yakni Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Jambi, Bengkulu, Aceh, dan Lampung.

Adapun tema yang diangkat dalam pameran bersama museum se Sumatera ini yaitu senjata tradisional dalam bingkai kehidupan sosial dan budaya masyarakat Sumatera.

Bagi Encik dan Puan yang hendak berkunjung, pameran ini dibuka secara gratis. Encik dan Puan tentunya bisa belajar banyak hal terkait peradaban zaman dahulu, bukanya setiap hari selama satu bulan kedepan.

Koleksi-koleksi di museum ini dibagi atas empat bagian yakni:

Senjata Tradisional Berburu

Senjata Tradisional Berburu

Untuk senjata tradisional berburu dibagi lagi atas beberapa senjata yaitu:

  • Buk Buk, tabung bambu bertutup untuk menyimpan anak panah yang dilapisi pelepah rumbia yang dilengkapi dengan tali untuk menyandang, biasanya panah yang disimpan dalam Buk-Buk adalah panah beracun, koleksi dari Museum Adityawarman Sumatera Barat.
  • Sumpit Suku Sakai, sebagai senjata untuk berburu hewan terbuat dari rotan dan kayu, koleksi Museum Sang Nila Utama, Riau.
  • Panah, seperangkat panah (busur, anak panah, tabung anak panah) terbuat dari bambu dan tali ijuk, digunakan sebagai senjata berburu koleksi dari Museum Negeri Bengkulu.
  • Serampang Mata Tiga, koleksi museum Sang Nila Utama Riau.
  • Sumpit, merupakan senjata berburu yang bertumpu pada kekuatan hembusan sang pemburu, biasanya dipakai untuk berburu binatang kecil seperti burung dan ikan. Sumpit terbuat dari bambu dan anaknya dari kayu, cara penggunaannya dengan cara meniup salah satu ujung bambu. Di sebagian masyarakat Sumatera, sumpit banyak digunakan untuk menangkap ikan, Koleksi Bengkulu.
  • Serampang Mata Satu, senjata yang digunakan untuk berburu oleh suku sakai, koleksi Museum Sang Nila Utama Riau.
  • Tombak, senjata ini lebih mempermudah perburuan, tinggal dilempar saja dan ujungnya yang dipasang semacam belati akan memberikan beban dan tombak pasti bergerak lurus. Selain untuk berburu senjata adat ini juga dipakai untuk berperang, koleksi Museum Negeri Jambi.
  • Tombak dari koleksi Museum Bala Putra Dewa Sumatera Selatan.
  • Mata tombak, senjata berburu masyarakat melayu Sumatera Utara, pegangannya terbuat dari kayu, koleksi dari Museum Negeri Sumatera Utara.

Senjata Tradisional Upacara Adat

Senjata Tradisional Upacara Adat

  • Keris Terapang, keris khusus kelengkapan pakaian adat pengantin laki-laki sebagai lambang kebesaran, warnanya dilapisi emas atau perak, koleksi dari Museum Negeri Bengkulu.
  • Keris, Senjata beladiri yang juga berfungsi sebagai perlengkapan upacara adat dan juga menjadi pusaka masyarakat lampung, koleksi Museum Ruwa Jurai Lampung.
  • Gambit, Koleksi Museum Negeri Sumatera Barat.
  • Keris Tidak Berluk, senjata beladiri yang juga digunakan sebagai perlengkapan upacara adat perkawinan, koleksi Museum Sang Nila Utama Riau.
  • Rambai Ayam, atau Jembio memiliki dua sisi mata yang meruncing seperti mata tombak, hulu biasanya berbentuk kepala burung yang merupakan lambang kekuatan pemiliknya. Pada masa lampau jembio dianggap sebagai perlengkapan harian koleksi Museum Negeri Bengkulu.

Senjata Tradisional Mengolah Makanan

Ada beberapa peralatan yang dipanjangkan untuk senjata pengolah makanan yaitu:

  • Perang Pendek yang digunakan sebagai alat pemotong koleksi Museum Sang Nila Utama Riau.
  • Pisau Tumbuk Lado yaitu senjata bela diri yang digunakan sebagai alat potong, tangkainya terbuat dari gading bagian luar sarung dilapisi perak dengan hiasan motif bunga koleksi dari Museum Adityawarman Sumatera Barat.
  • Palitei, senjata pisau seperti mata tombak dengan hulu melengkung digunakan masyarakat Kepulauan Mentawai sebagai alat pemotong, koleksi dari Museum Adityawarman Sumatera Barat.
  • Parang Enggang, senjata bela diri masyarakat Enggano yang juga digunakan sebagai perkakas rumah tangga, koleksi dari Museum Negeri Bengkulu.
  • Sumateralith, kapak genggam berbentuk memanjang dan cenderung lonjong. Dibuat dengan cara pemangkasan pada satu sisi (teknik monofasial), ditemukan di situs Bukit Karang Kabupaten Langkat koleksi dari Museum Negeri Sumatera Utara.

Senjata Tradisional Membela diri

  • Pedang Sabet Palembang, hulu pedang ini terbuat dari tanduk kerbau ukir yang dibungkus dengan perak berukir motif flora tradisional melayu. Bilah pedang ditempa dari baja pamor yang indah dengan sarung pedang dari kayu berbalut kulit ular kobra. Pedang ini mewakili keindahan seni hias senjata dari Kesultanan Palembang pada abad ke 18 masehi, koleksi Museum Bala Putera Dewa Sumatera Selatan.
  • Pengganda Berukir, senjata pemukul dan penangkis serangan lawan yang menggunakan keris. Selain itu juga dipakai untuk pemukul kentongan dalam situasi darurat. Pengganda ini merupakan koleksi dari Museum Negeri Bengkulu.
  • Tameng, senjata tusuk yang digunakan untuk menyerang juga upacara adat, koleksi Museum Bala Putera Dewa Sumatera Selatan.
  • Tameng terbuat dari rotan, bentuk bundar dengan teknik jalin. Digunakan sebagai alat untuk menangkis serangan senjata tajam bagi laki-laki dewasa, koleksi Museum Negeri Bengkulu.
  • Tongkat Sumam, tongkat bermata pedang, senjata kepala marga (pejabat) yang juga menunjukkan status sosial pemiliknya, koleksi Museum Negeri Bengkulu.
  • Tombak, senjata beladiri yang digunakan untuk perlengkapan upacara adat perkawinan Lampung. Koleksi museum Ruwa Jurai Lampung.
  • Miniatur Baluse, tameng yang panjang aslinya lebih dari 100 cm, dipakai sebagai perisai dalam peperangan, juga dipakai pada tari perang. Koleksi dari Museum Sumatera Utara.
  • Tameng dari koleksi Museum Bala Putera Dewa Sumatera Utara, penangkis serangan senjata tusuk, panah dan juga tombak, terbuat dari kayu ringan yang kuat dan rotan.

Senjata Tradisional Menyerang

  • Tombak Raja Kampar, senjata tusuk bertangkai panjang dipakai sebagai senjata menyerang, koleksi Museum Sang Nila Utama Riau.
  • Pedang Portugis, senjata perang peninggalan Portugis abad ke 16, matanya terbuat dari besi pipih, tangkainya berbentuk salib, sarungnya dari kayu, koleksi dari Museum Adityawarman Sumatera Barat.
  • Sondang, senjata tusuk masyarakat Riau mirip pedang agak melengkung pada bagian atas, koleksi Museum Sang Nila Utama Riau.
  • Tombak, dipakai untuk berburu dan senjata beladiri, koleksi Museum Sang Nila Utama Riau.
  • Tolugu, pedang kepala suku Nias, koleksi Museum Negeri Sumatera Utara.
  • Jenawi, sebagai alat untuk melindungi diri dari ancaman lingkungan, misalnya saja untuk melawan binatang buas atau untuk kelengkapan berperang melawan suku lain, koleksi Museum Sang Nila Utama Riau.
  • Tombak Berambut, koleksi dari Museum Negeri Bengkulu.
  • Trisula, koleksi dari Museum Negeri Jambi.

Selain koleksi yang disebutkan di atas, masih banyak benda-benda bersejarah lainnya yang dipajang di dalam pameran museum se Sumatera yang diselenggarakan di Pekanbaru ini.

Jika penasaran dengan beragam koleksi dan keunikannya, silahkan berkunjung ke Museum Sang Nila Utama ya Encik dan Puan.