Hari Peringatan Pemberontakan PETA, Ini Sejarahnya

140
Hari Peringatan Pemberontakan PETA

Jangan cuma rayakan Valentine, 14 Februari juga menjadi Hari Peringatan Pemberontakan PETA lho Encik dan Puan.

Tentara PETA

Tentara PETA (Pembela Tanah Air) sendiri dibentuk pada 3 Oktober 1943 sebagai pasukan pertahanan wilayah oleh panglima tertinggi Tentara ke-16 (Rikugun) Jepang Letnan Jendral Kumakichi Harada yang menguasai wilayah Jawa dan Madura.

Pihak Jepang membangun PETA dengan tujuan sebagai tentara teritorial guna mempertahankan pulau Jawa, Bali dan Sumatera jika pasukan sekutu tiba. Awalnya, mereka lebih dikenal sebagai “Tentara Sukarela”. Kemudian pada pertengahan tahun 1944 lebih populer disebut sebagai Pembela Tanah Air atau yang disingkat PETA.

Pemberontakan Dimulai

Pemberontakan PETA dimulai pada 14 Februari 1945 pukul 03.00 WIB di Blitar, Jawa Timur, yang dipimpin oleh ‘Shocancho’ Soeprijadi terhadap pasukan Jepang.

Pasukan PETA yang dipimpin oleh ‘Shodancho’ Supriadi ini menyerang Hotel Sakura yang merupakan kediaman para perwira militer kekaisaran Jepang.

Serangan juga diarahkan ke markas Kempetai yang berada di samping barak PETA Bliter menggunakan senapan mesin. Sebanyak 360 orang terlibat dalam pemberontakan tersebut.

Rencananya, para pemberontak akan melakukan pengibaran bendera merah putih di lapangan depan markas PETA Blitar.

Alasan Pemberontakan

Pemberontakan terjadi ketika para komandan PETA merasa tersentuh melihat penderitaan para romusha (rakyat Indonesia yang diperbudak oleh tentara Jepang dengan melakukan kerja rodi). Dimana banyak masyarakat yang kelaparan dan mati akibat dari kerja rodi yang dicanangkan oleh Jepang.

Selain itu adanya perlakuan yang tidak setara antara perwira Jepang dan Indonesia. Yang mana salah satunya adalah kewajiban bagi perwira PETA untuk memberi salam kepada serdadu Jepang, bajan pada yang berpangkat rendah.

Akhir Pemberontakan

Namun pemberontakan tersebut berhasil dihalau oleh Jepang dengan memanfaatkan pasukan pribumi yang tak terlibat pemberontakan. Adapun Supriadi dinyatakan menghilang dalam peristiwa tersebut.

Dalam peristiwa tersebut, ada satu pemimpin di lapangan yang selama ini dilupakan oleh sejarah adalah Muradi. Ia tetap bersama dengan pasukannya hingga saat terakhir.

Kemudian pada 16 Mei 1945, para pemberontak tersebut diadili dan dihukum mati dengan hukuman penggal sesuai dengan hukum militer Tentara Kekaisaran Jepang. Lokasi hukuman penggal tersebut di Everald yang sekarang menjadi Ancol.

Mulai Diperingati

Pemberontakan Tentara PETA di Blitar ini dianggap sebagai cikal bakal yang menginspirasi pemberontakan PETA di wilayah lain hingga peristiwa Rengasdengklok pada Agustus 1945.

Dilansir Kompas, Hari Peringatan Pemberontakan PETA ini rutin diperingati sejak 14 Februari 1973 oleh seluruh pejabat militer dan sipul Departemen Hankam di Jakarta. Mereka yang berjuang dianggap sebagai pahlawan.