Cinta Dulu Apa Nikah Dulu?
Home » Cinta » Cinta Dulu Apa Nikah Dulu?

Cinta Dulu Apa Nikah Dulu?


Cinta atau menikah dulu? Pertanyaan ini kadang mengganjal, terutama bagi mereka yang telah cukup umur serta belum berpasangan dan akan dijodohkan.

Tentu saja pernikahan berdasarkan perjodohan tidak menarik saat ini. Meskipun faktanya di negara kita hal tersebut masih lumrah terjadi.

Pernikahan bukanlah hanya sebuah ikatan yang menyatukan dua insan yang berbeda, namun bersatunya dua keluarga, dua lingkungan sosial yang akhirnya semakin terhubung secara dekat dibanding sebelumnya.

Pernikahan yang diatur ini berfokus pada penyatuan keluarga tersebut. Sambil mencari pasangan untuk putra atau putri mereka, para orangtua terlebih dahulu mencari tahu apakah keluarga calon menantu mereka sesuai dengan kriteria mereka.

Keamanan dan kestabilan sepertinya menjadi hal yang paling penting untuk dipertimbangkan dalam perjodohan ketimbang pernikahan yang berlandaskan cinta.

Kritik terhadap pernikahan yang dijodohkan lebih tertuju pada bagaimana perasaan pasangan tersebut antara satu sama lain. Kecocokan secara fisik dan emosional mungkin perlu dipertimbangkan.

Jika kamu mengatakan ‘saya tidak ada perasaan apapun terhadap si dia’, keluargamu mungkin akan merespon dengan berkata bahwa ‘cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu’.

Kekurangan lainnya adalah pasangan tersebut tidak memiliki cukup waktu untuk saling mengenal satu sama lain, saling mengerti perasaan atau pendapat masing-masing maupun isu-isu lainnya.

Jadi saat pernikahan sudah terjadi, maka penyesuaian akan sangat dibutuhkan. Setiap pasangan akan belajar untuk mengerti pasangannya dan mulai menghargai hal-hal baik dalam hubungan tersebut.

Orang yang menjalani pernikahan berdasarkan perjodohan merasa bahwa wajib menuruti keinginan orangtuanya. Jika menolak, mereka akan dianggap sebagai anak pembangkang dan durhaka terhadap keluarga. Padahal mereka tahu bahwa mereka tidak akan bahagia.

Pernikahan yang berdasarkan cinta, jika diperhatikan dari luarnya saja, hal ini terlihat begitu sempurna. Kita menemukan belahan jiwa, menikah, kemudian hidup bahagia selamanya.

Apa yang mungkin salah dalam hal ini? Banyak hal sebenarnya. Seperti yang diungkapkan F. Scott Peck, ‘cinta bukanlah tanpa usaha’, dengan kata lain cinta itu penuh perjuangan.

Pernikahan berdasarkan cinta sama beratnya dengan yang dijodohkan. Ada tekanan berbeda yang kadang semakin meningkat seiring kenyataan bahwa kita harus bertanggung jawab penuh atas pasangan yang kita pilih.

Kita tidak bisa menyalahkan orang tua atau siapapun jika terjadi hal yang tidak diinginkan. Meskipun kita telah mengenal dengan baik pasangan kita sebelum menikah, ikatan pernikahan dan hidup bersama merupakan sebuah pengalaman baru yang terdapat suka dan duka.

Dengan pernikahan yang berdasarkan cinta, kita dapat membangun kehidupan dengannya menurut keinginan kita dan menciptakan kebahagiaan kita sendiri.

Sebuah data statistik menyebutkan bahwa ‘cinta’ dalam pernikahan yang dijodohkan akan mencapai puncaknya saat pasangan tersebut telah melewati usia 5 tahun pernikahan.

Sebaliknya, puncak dari pernikahan berdasarkan cinta telah tercapai sebelumnya dan akan mulai memudar seiring berjalannya pernikahan. Hal ini terjadi karena orang yang menikah atas dasar cinta memiliki banyak ekspektasi.

Sebaliknya, orang memilih pernikahan yang dijodohkan dengan ekspektasi yang lebih rendah dan tidak berharap segalanya bisa saja pernikahannya berhasil dengan tiba-tiba.

Jadi tidak ada rumus khusus dalam keberhasilan sebuah pernikahan. Antara pernikahan yang dijodohkan dengan pernikahan atas dasar cinta sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan.

Semuanya kembali kepada pasangan itu sendiri bagaimana mereka menyikapi setiap tantangan yang terjadi dalam pernikahannya agar tetap bertahan.

Sah-sah saja jika ingin mencintai dulu atau menikah dulu, namun komitmen bangunan cintanya harus disiapkan jauh sebelum menikah.

About Nur Hasanah

impossible=i'm possible