Menanti Akhir Kabut Asap Pekanbaru

36

Sempat merasakan udara yang segar beberapa hari, kabut asap Pekanbaru belakangan kembali pekat. Menurut data yang terus dirilis BMKG Kota Pekanbaru setiap harinya, sejak 4 September 2019 hingga 9 September 2019 terdapat ratusan titik api.

Pada tanggal 4 September 2019 titik panas (hotspot) Sumatera level Confidence >50% berjumlah 270 titik, dengan daerah Jambi 128 dan Riau 61 titik. Sedangkan titik hotspot berada pada level confidence >70% dengan 53 titik.

Rangkuman temuan titik hotspot pada tanggal berikutnya 5 September terdapat 341 titik panas di level confidance >50% di daerah Jambi ditemui 138 titik terbanyak, dan Riau 60. Sementara untuk titik panas di level confidence >70% terdapat 39 titik di daerah Riau.

Di tanggal 6 September, titik panas seolah belum juga akan berkurang. Didapati 341 titik panas tersebar di seluruh Sumatera dengan titik terbanyaknya masih berada di Riau 123 titik, sementara Jambi 116 titik.

Pada tanggal 7 September titik api di wilayah Sumatera nyaris nihil. Namun pada tanggal 8 September, temuan titik panas di wilayah Sumatera kembali berjumlah ratusan.

Setidaknya sebanyak 299 titik yang terpantau. Adapun titik panas terbanyak ditemukan di Jambi dengan 116 titik dan Riau mengekor pada posisi dua dengan temuan 71 titik.

Sementara itu sebaran titik panas ini dirilis BMKG Pekanbaru, Senin (9/9), berdasarkan pantauan satelit di level confidence 70 persen, di Riau ditemukan 182 titik panas.

Kawasan yang paling luas terjadi karhutla berada di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) ada 117 titik panas. Selanjutnya Kabupaten Pelalawan 38 titik, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) 17, Kota Dumai 1, dan Kabupaten Bengkalis 2.

Kondisi kabut asap Pekanbaru ini tak pelak menyebabkan dunia pendidikan di Kota Pekanbaru menjadi lumpuh. Sebagian sekolah sudah meliburkan siswanya, sedangkan beberapa sekolah masih belum meliburkan karena menunggu kebijakan.

Pembakaran hutan yang dilakukan sengaja, pemerintah daerah bahkan pusat yang tak bertenaga untuk menghentikannya, pada titik akhir dari segala bencana ini tentu masa depan bangsa. Saat masa depan bangsa menjadi taruhannya, pemangku kebijakan hanya terus berkilah dengan beberapa kata.