Penunggu Gedung Kampus

13

Waktu itu tanggal 11 Desember 2015 yang lalu, aku mengalami kejadian yang tidak mengenakkan. Aku merasakan kehadiran penunggu gedung kampus. Hari itu hari Jumat, tepat sehari menjelang puncak perayaan ulang tahun salah satu organisasi yang aku ikuti.  Sebut saja organisasinya “suara kampus”.

Ya, itu tagline-nya yang aku terjemahkan, di mana terletak di salah satu kampus ujung Pekanbaru. Aku sendiri merupakan Ketua Panitia acara tersebut. Sekretariat kami terletak di lantai tiga, sementara acara yang akan dilaksanakan di halaman gedung tersebut.

Panitia bekerja mendekorasi panggung dan lapangan mulai dari siang menjelang salat Jumat hingga tengah malam. Satu per satu alat dan bahan yang ada di sekretariat harus kami angkat ke bawah. Walaupun ringan, tapi bolak-balik dari lantai tiga ke lantai dasar itu membuat badan kami pegal.

Detik demi detik pun berjalan hingga senja sudah menutupi langit waktu itu. Persiapan dekorasi panggung dan lapangan pun sudah mencapai 90%, namun barang-barang yang kecil belum semuanya terangkut ke bawah karena kepanitiaan kami sangat sedikit. Acara besar tapi panitia hanya sekitar 10 orang.

Waktu sudah menunjukkan pukul 19.15 WIB. Saat itu aku sendirian berada di lantai tiga gedung. Sekretariat kami terletak di bagian tengah gedung yang posisinya tepat di depan tangga.

Sementara bagian kiri dan kanannya adalah ruangan kelas. Lampu teras di lantai itu cukup terang. Awalnya aku tidak merasakan hal-hal aneh. Tiba-tiba “ssreeettt sssreeeeet”. Suara seperti kursi ditarik dan didorong.

“Ah, mungkin cuma tikus lewat,” ucapku.

Kejadian itu terjadi ketika saat aku akan menuju ke lantai dasar untuk meletakkan barang. Kemudian aku kembali ke lantai tiga dan hal yang sama pun terjadi lagi. Suaranya semakin keras.

“Ah, apa-apain ini. Aku gak takut woi!” teriakku ke arah suara yang ada di ruangan kelas tersebut.

Perlahan aku menuju ke ruangan kelas itu dan anehnya suaranya hilang. Aku cuma bicara lirih, “Siapapun yang ada di sini, tolong jangan ganggu kami. Memang malam ini kami sibuk mondar-mandir tidak seperti hari biasanya, tapi bukan untuk mengganggu kalian. Maaf kalau merasa terganggu.”

Ya, rasanya tidak mungkin di dalam ruangan itu ada orang, sementara perkuliahan saja selesai pukul 17.00 dan petugas cleaning service gedung pun sudah mengunci pintu-pintu kelas. Bahkan di hari biasa pun pukul 18.00 pintu gedung sudah dikunci. Hanya saja malam itu gedung tersebut tidak dikunci karena ada acara.

Setelah aku bicara lirih itulah suara kursi tersebut tidak ada terdengar lagi. Mungkin mereka merasa terganggu dengan kehadiran kami yang cukup ramai malam itu. Kita hidup di dunia bukan cuma bangsa manusia saja.

Jin termasuk ciptaan Allah. Kalau manusia saja ingin dihormati dan dihargai mungkin saja mereka juga seperti itu. Tetap kita meminta perlindungan kepada Allah.

Penulis: Robi Parman