Kekerasan Anak di Pekanbaru Masih Tinggi

0
808
Kekerasan Anak di Pekanbaru

Angka kekerasan terhadap anak di Kota Pekanbaru masih tinggi. Keprihatinan meningkat seiring dengan meningkatnya kekhawatiran terhadap tindakan predator terhadap anak-anak.

Kekerasan Seksual Anak di Pekanbaru Tinggi

Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan oleh orang tua terhadap kegiatan anak dan lingkungan bermain mereka.

Kejadian predator anak di Pekanbaru beberapa waktu lalu masih segar dalam ingatan masyarakat. Pelaku dengan kejam merekam adegan tidak senonoh melibatkan sejumlah anak.

Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3PM) Kota Pekanbaru mencatat bahwa kasus kekerasan terhadap anak masih cukup banyak. Tidak hanya berupa kekerasan fisik, tetapi juga melibatkan kekerasan seksual.

“Kasus pelecehan seksual masih menjadi masalah utama dalam kekerasan terhadap anak, dibandingkan dengan kekerasan fisik,” ungkap Kepala DP3APM Kota Pekanbaru Chairani, Minggu (26/12/2023).

Korban Bersedia Melapor

Chairani menyatakan bahwa kasus kekerasan seksual terhadap anak masih tinggi di Pekanbaru. Faktor penyebabnya melibatkan korban yang kini lebih bersedia melaporkan kekerasan seksual yang mereka alami.

Dia mencatat bahwa saat ini keluarga lebih terbuka, sehingga tidak takut untuk melaporkan kekerasan yang dialami anak mereka. Chairani menegaskan bahwa pihaknya siap menerima laporan tersebut dan memberikan pendampingan kepada korban.

“Merasa prihatin dengan jumlah kasus yang masih tinggi. Kami terus melakukan pendampingan terhadap korban,” katanya.

Peran Semua Pihak Cegah Kekerasan Pada Anak

Chairani mengakui bahwa masih banyak kasus kekerasan terhadap anak, tetapi menekankan bahwa semua pihak memiliki peran dalam mencegah tindakan kekerasan tersebut.

Upaya pencegahan dapat dilakukan mulai dari keluarga, dan ia berharap agar pemerintah dan instansi terkait bekerja sama untuk melawan kekerasan terhadap anak.

Peran orang tua dan guru dianggap sangat penting dalam melindungi anak-anak agar tidak menjadi korban kekerasan fisik atau seksual.

Anak-anak tersebut merupakan bagian dari keluarga kita, sehingga perhatian yang lebih diperlukan dalam upaya pencegahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.