Mulai tahun depan naik bus Trans Metro Pekanbaru tidak perlu lagi membayar karcis, karena PT Sarana Pembangunan Pekanbaru (SPP) selaku pengelola bus TMP akan menggunakan smart card atau sistem e-Tiketing. Dengan menggunkan sistem e-Tiketing masyarakat tidak perlu membayar tiket menggunakan uang tunai lagi.
Heri Susanto, selaku Dirut PD Pembangunan menjelaskan saat ini pihaknya telah melakukan beberapa persiapan untuk memantapkan penggunaan sistem smartcard sebagai pengganti tiket. Bahkan para pegawainya saat ini akan diberikan pelatihan untuk mempersiapkan sistem smartcard tersebut.
Seperti yang dikutip dari pekanbaru.go.id ia mengatakan akan bekerja sama dengan Bank BRI dalam penggunaan sistem smartcard sebagai pengganti tiket. Adapun biaya yang diperlukan sekitar Rp3,6 M untuk mengoperasikannya.
Selama ini kita cukup membayar Rp 3000 sudah bisa berkeliling naik bus Trans Metro, semoga dengan adanya sistem e-Ticketing ini pelayanan Trans Metro semakin baik ke depannya 😉
Tadi malam, Sabtu (25/10), Porprov VIII Riau tahun 2014 yang diselenggarakan sejak 18 Oktober lalu di Kabupaten Indragiri Hulu resmi ditutup oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman yang diwakili oleh Wakil Bupati Indragiri Hulu di Stadion Narasinga, Rengat.
Pada pergelaran Porprov kali ini Kabupaten Bengkalis meraih Juara Umum, lalu diikuti oleh Kota Pekanbaru. Sedangkan tuan rumah berada di peringkat ketiga.
Sore tadi, Presiden terpilih Jokowi mengumumkan Menteri-menteri yang duduk di kabinetnya, kabinetnya diberi nama Kabinet Kerja.
Adapun jumlah kementerian di kabinet Jokowi-JK sebanyak 34 kementerian, dimana 16 diisi kalangan partai politik dan 18 berasal dari kalangan profesional.
Berikut ini nama-nama menteri dalam kabinet kerja Jokowi-JK:
Menteri Sekretaris Negara: Prof. Dr. Pratikno (Rektor UGM)
Kepala Bappenas: Andrinof Chaniago (Ahli kebijakan publik dan anggaran)
Menteri Kemaritiman: Indroyono Soesilo (Praktisi)
Menko Politik Hukum dan Keamanan: Tedjo Edy Purdjianto (Mantan KSAL)
Menko Perekonomian: Sofyan Djalil (ahli ekonomi)
Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan: Puan Maharani (PDIP)
Menteri Perhubungan: Ignatius Jonan (Dirut PT KAI)
Menteri Kelautan dan Perikanan: Susi Pudjiastuti (Wirausahawati)
Menteri Pariwisata: Arief Yahya (Profesional)
Menteri ESDM: Sudirman Said
Menteri Dalam Negeri: Tjahjo Kumolo (PDI Perjuangan)
Menteri Luar Negeri: Retno Lestari Priansari Marsudi (Dubes RI di Belanda)
Menteri Pertahanan: Ryamizard Ryacudu (mantan KSAD)
Menteri Hukum dan Ham: Yasonna H.Laoly (PDI Perjuangan)
Menkominfo: Rudi Antara (profesional)
Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi: Yuddy Chrisnandi (Nasdem)
Menteri Keuangan: Bambang Brodjonegoro (ekonom)
Menteri BUMN Rini M.Soemarno (mantan Ketua Tim Transisi/mantan menteri perindustrian)
Menteri Koperasi dan UMKM: Puspayoga
Menteri Perindustrian: Saleh Husin (Hanura)
Menteri Perdagangan: Rahmat Gobel (profesional)
Menteri Pertanian: Amran Sulaiman (praktisi)
Menteri Ketenagakerjaan: Hanif Dhakiri (politisi)
Menteri PU dan Perumahan Rakyat: Basuki Hadimuljono (birokrat)
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan: Siti Nurbaya (Nasdem)
Menteri Agraria dan Tata Ruang: Ferry Musyidan Baldan (Nasdem)
Menteri Agama: Lukman Hakim Saifudin (PPP)
Menterni Kesehatan: Nila F Moeloek (profesional)
Menteri Sosial: Khofifah Indra Parawansa (tokoh Muslimah NU)
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan anak: Yohanan Yambise
Menteri Budaya Dikdasmen: Anies Baswedan (mantan Tim Transisi)
Menristek dan Dikti: M.Nasir (Rektor Undip)
Menpora: Imam Nahrawi (politisi)
Menteri PDT dan Transmigrasi: Marwan Jafar (PKB)
Namun, sangat disayangkan tidak ada “jatah” Menteri yang berasal dari Riau. Padahal menurut Anggota DPD RI, Maimanah Umar, Riau memiliki sejumlah tokoh dan putra daerah yang mumpuni untuk duduk di kursi kementerian.
Semoga saja kabinet kerja Jokowi-JK ini dapat mengemban amanat seluruh rakyat Indonesia 🙂
Jika membahas tentang karya seni tentu tidak akan ada habisnya, karena saat ini semakin banyak kreativitas yang muncul di dalam dunia seni. Hal tersebut yang mendasari Tengku Fitra Rizka (27), bersama timnya yang bergelut di bidang desain dan lukis membentuk sebuah UKM bernama Orens.Blossom.
Dengan mengusung tagline “Be unique… be artfull.. be Orens.Blossom†ia menyediakan barang-barang serba lukis yang limited edition, unik dan personal.
Pada bulan Oktober 2010, setelah lulus dari Fisipol Unri, Jurusan Ilmu Komunikasi, Ika biasa ia dipanggil, berniat untuk memiliki sebuah usaha yang unik dan belum ada Di Pekanbaru. Meski ia tidak memiliki latar belakang di dunia seni, ia tetap semangat untuk membuka usaha ini.
Orens.Blossom sendiri memiliki makna yang unik, dengan maskot yang muncul dengan wujud Cewek Stylish yang bernama Orens dan cowok gaul yang bernama Blossom.
“Diharapkan produk-produk Orens.Blossom dapat digunakan oleh semua kalangan,†ujar gadis berkacamata ini.
Adapun produk Orens.Blossom antara lain kaos lukis, mug lukis, piring lukis, sepatu lukis, sketsa wajah, karikatur digital serta yang sedang trend Di Indonesia, yakni WPAP. Selain untuk diri sendiri mapun couple, produk-produk Orens.Blossom dapat dijadikan sebagai kado untuk orang-orang tersayang.
Saat ini, Orens.Blossom memiliki 4 orang karyawan tetap dan 3 orang freelance. Produk-produk Orens.Blossom sendiri memiliki harga yang bersahabat, mulai dari harga Rp.35.000-Rp.250.000, sesuai dengan tingkat kesulitan pesanan.
Tertarik dengan produk-produk Orens.Blossom? Yuk berkunjung ke galerinya di Jalan Kenari No 9 Sukajadi 🙂
Bingung mau weekend kemana? Apalagi kita tahu Pekanbaru minim tempat Wisata, sehingga tidak ada salahnya kita berwisata ke “Sungai Hijau”.
Sungai Hijau berada di Kecamatan Salo, Kampar. Jaraknya sekitar lima kilometer dari kota Bangkinang. Jika ditempuh dengan kendaraan roda dua dari Pekanbaru, sekitar satu setengah jam.
Mengapa dinamakan sungai Hijau? Karena adanya lumut dan ganggang di sekitaran sungai sehingga menyebabkan airnya berwarna hijau.
Pemberian nama Sungai Hijau ini ternyata berasal dari sebutan pengunjung. Padahal, sejak dulu sungai ini bernama Sungai Salo.
Menurut masyarakat setempat, dulunya Sungai Hijau itu hanya satu. Namun sekarang terbagi dua, di atas dan di bawah.
Lokasi ini kini kian diminati oleh para pengunjung, terutama pengunjung dari Kampar, Kota Pekanbaru dan Rokan Hulu. Bahkan masyarakat Payakumbuh juga sering ke lokasi ini.
Pada awalnya kawasan ini sempat dipagar pemiliknya Hj Murni yang tidak setuju kebun karetnya dijadikan tempat wisata oleh masyarakat.
Akhirnya mimin memutuskan untuk ke tempat atas. Adapun biaya masuknya hanya Rp 5.000 per orang. Sangat murah untuk bisa menikmati tempat “wisata pemandian Sungai Hijau atas” (sesuai dengan spanduknya).
Setibanya disana terlihat ramainya para pengunjung. Ternyata sungainya memang berwarna Hijau. Sungai yang kecil dengan arus sedang dan sekitarannya dipenuhi lumut dan ganggang. Serta dibawahnya terdapat pasir bercampur batu kerikil dan airnya yang begitu jernih serta dingin. Sungguh pemandangan yang indah dan eksotis.
Karena Sungai ini dangkal, maka tidak perlu takut tenggelam bila tidak bisa berenang :p Kedalamannya hanya sekitar setinggi lutut atau pun paha orang dewasa. Jadi, cocok untuk yang mau menghilangkan kejenuhan, penat dari kegiatan kerja atau pun sekolah.
Walaupun cuaca siang panas terik, tapi airnya tetap dingin lho. Saat kita mengambil pasir yang bercampur kerikil dari dasar sungai, airnya kembali jernih.
Bagi yang penasaran mau kesana dan takut nyasar. Nih mimin kasih petunjuk lokasinya. Harap dicatat ya 😉
Lokasinya sekitar tiga kilometer jalan lintas dari Bangkinang ke arah Provinsi Sumatera Barat. Setelah markas Batalyon Infanteri 132/Bima Sakti atau Yonif 132/BS ada simpang tiga tugu batu belah. Kemudian belok ke kiri, lalu lurus terus hingga simpang empat. Lalu belok kiri dan ikuti jalan tersebut. Disebelah kanan, akan ada tulisan Sungai Hijau atas. Kalau mau nyari yang bawah, tinggal lurus lagi.
Dengan lokasinya yang tidak begitu jauh dari Pekanbaru dan biaya masuknya yang murah, tidak ada salahnya kita berwisata kesana 🙂
Tidak ada salahnya jika kita berkunjung ke Museum Sang Nila Utama di akhir pekan bersama keluarga. Mirisnya saat ini sangat jarang sekali orang yang berkunjung ke museum.
Padahal dengan berkunjung ke museum, kita dapat mengenal budaya dan benda-benda kuno peninggalan zaman dulu.
Terletak di jalan Jenderal Sudirman No 194 Pekanbaru, museum ini diresmikan oleh Direktur Jendral Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Edi Sedyawati pada tanggal 9 Juli 1994.
Nama “Sang Nila Utama” ini berasal dari nama seorang Raja Bintan yang berkuasa sekitar abad XIII di Pulau Bintan.
Simpan Berbagai Koleksi
Tidak disangka, museum ini menyimpan banyak koleksi. Jumlah koleksi yang dimiliki museum ini sampai tahun 2010 adalah 3.886 koleksi. Koleksi ini diklasifikasikan menjadi 10 jenis, yakni:
Geologika/geografika
Koleksi yang berhubungan dengan geologi dan geografi
Biologika
Koleksi yang berhubungan dengan biologi
Etnografika
Koleksi yang berhubungan dengan suku bangsa
Arkeologi
Koleksi yang berhubungan dengan kepurbakalaan
Historika
Koleksi yang berhubungan dengan sejarah
Numistika dan Heraldika
Koleksi yang berhubungan dengan mata uang, stempel dan tanda jasa
Filologika
Koleksi yang berhubungan dengan naskah kuno
Keramologika
Koleksi yang berhubungan dengan gerabah dan keramik
Seni Rupa
Koleksi yang berhubungan dengan seni lukis,seni kerajinan tangan dan seni patung
10. Teknologika/ modern
Koleksi yang berhubungan dengan teknologi dan rekayasa
Fasilitas
Gedung pameran umum ini memiliki luas 1.123 dan terdiri dari dua lantai. Museum satu-satunya di Provinsi Riau ini juga memiliki beberapa fasilitas lain, yakni taman untuk bermain gedung auditorium yang dapat digunakan untuk acara seminar, penyuluhan serta perpustakaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat umum untuk mencari informasi.
Saat memasuki gedung utama, kita akan disambut oleh petugas yang ramah. Sebelum mengunjungi museum, pengunjung akan diminta untuk menitipkan barang-barang di penitipan barang. Kemudian, pengunjung dapat mengelilingi sendiri ruang museum.
Miliki Koleksi Menarik
Koleksi-koleksi yang dipajang di museum ada yang dipajang di dalam lemari kaca atau tanpa lemari kaca. Biasanya yang di pajang di lemari kaca tersebut ialah koleksi yang sudah lama dan perlu perawatan khusus. Tidak semua yang dipajang di museum ini koleksi asli, beberapa merupakan replika.
Koleksi-koleksi yang paling menonjol ialah sejarah-sejarah Provinsi Riau, ditampilkan foto-foto beberapa tempat bersejarah serta tokoh-tokoh yang memiliki peran dalam pembangunan provinsi Riau.
Kemudian ada maket dari beberapa situs bersejarah dan tempat penting di provinsi Riau, seperti maket istana-istana yang berdiri di beberapa kabupaten, serta koleksi pertambangan minyak bumi Chevron, karena Provinsi Riau adalah salah satu Provinsi yang menghasilkan minyak bumi terbesar di Indonesia.
Koleksi peralatan dan barang-barang tambang seperti mata bor, replika pompa ayun, batuan pembentuk minyak bumi, dan crude oil atau minyak mentah menjadi koleksi paling unik yang jarang ditemukan di museum lainnya.
Kurang Publikasi
Seperti halnya museum-museum di Indonesia, museum Sang Nila Utama ini pun kurang terawat dan sepi pengunjung. Padahal terdapat banyak koleksi menarik yang di pajang di museum ini. Perlu adanya publikasi yang lebih banyak agar museum Sang Nila Utama ini dapat dikenal masyarakat luas dan menjadi tujuan wisata di Kota Pekanbaru.
Jam Operasional
Jika Encik dan Puan ingin berkunjung, berikut jadwalnya:
Selasa-Kamis: 08.00 – 15.00 WIB
Jumat: 08.00 – 13.00 WIB
Sabtu dan Minggu: 08.00-14.00
Senin & Hari libur nasional: Tutup
Harga Karcis
Adapun harga tiket masuknya sendiri bervariasi, untuk wisatawan lokal sebagai berikut:
Dewasa: Rp5.000/orang
Anak-anak berusia di bawah 10 tahun (TK): Rp3.000/orang
Rombongan pelajar/mahasiswa: Rp3.500/orang
Rombongan minimal 20 orang: Rp4.000/orang
Sedangkan untuk wisatawan luar/mancanegara, ini tarifnya:
Dewasa: Rp15.000/orang
Anak-anak berusia di bawah 10 tahun: Rp7.500/orang
Setelah sukses mengadakan Bulan Pusaka pada bulan Agustus yang lalu, Komunitas Riau Heritage kembali mengadakan kegiatan kebudayaan, yakni seminar Ornamen di Tanah Melayu Riau serta kunjungan ke Museum Sang Nila Utama, Pekanbaru.
Seminar ini dilaksanakan pada hari Sabtu (18/10), yang menghadirkan narasumber Jon Kobet, salah seorang budayawan Riau dan Dedi Ariandi yang merupakan penggiat komunitas Riau Heritage. Acara ini dimulai dari pukul 09.00 sampai pukul 14.00, yang mana acara ini terbagi dalam 3 Sesi.
Pada sesi pertama yaitu seminar Ornamen di Tanah Melayu Riau diisi oleh Jon Kobet. Dalam seminarnya, Jon Kobet membicarakan tentang corak dan motif-motif yang ada didalam unsur-unsur kebudayaan melayu.
Diungkapkan Jon Kobet, “Pada awalnya, seni corak melayu ini diadaptasi dari alam sekitar seperti tumbuhan. Setelah masuknya kebudayaan luar, maka seni corak melayu pun mengalami perkembangan, seperti motif-motif hewan yang mengadaptasi budaya Cina dan Eropa.”
Kemudian sesi kedua diisi dengan kunjungan ke Museum Daerah Riau Sang Nila Utama. Di museum ini terdapat banyak koleksi peninggalan sejarah dari berbagai daerah di Provinsi Riau. Antusiasme peserta seminar cukup baik, terlihat dari para peserta yang tertarik mencari info tentang koleksi-koleksi yang di pajang di museum.
Setelah sekitar setengah jam mengelilingi museum, kemudian dilanjutkan dengan sesi ketiga, diskusi tentang museum oleh Dedi Ariandi, suasana diskusi lebih santai. Acara ini merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya Melayu Riau. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung, yuk mari kita mengenal budaya Melayu Riau ^_^