Mengintip Produksi Tenun Siak di Kampung Bandar
Home » Melayu » Mengintip Produksi Tenun Siak di Kampung Bandar
  • Rumah H Yahya

    Wawa dan Ruhaya pengrajin tenun Siak yang masih tersisa dari KSM Pucuk Rebung (Agus Setia Budiawan)

  • Memalet

    Wawa sedang memalet, yakni proses mengubah bentuk gulungan benang pakan yang digunakan pada proses menenun (Agus Setia Budiawan)

  • Songket

    Kain songket ini dijual dengan harga antara Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1juta (Agus Setia Budiawan)

  • Menenun

    Ruhaya sedang menenun menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) (Agus Setia Budiawan)

Mengintip Produksi Tenun Siak di Kampung Bandar


Mungkin tak banyak warga Kota Pekanbaru yang mengetahui bahwa ada pengrajin tenun Siak di Pekanbaru. Para pengrajin tersebut berada di Desa Wisata Kampung Bandar, Kecamatan Senapelan.

Desa Wisata Kampung Bandar ini terletak di RW 01 Jalan Perdagangan, kecamatan Senapelan, Pekanbaru. Sebagai mana yang telah kita ketahui bahwa Senapelan merupakan kawasan asal mula Kota Pekanbaru.

lokasi-kampung-bandar

Pada tahun 2011 yang lalu, melalui Program Sapta Pesona dengan konsep Desa Wisata, Pemko Pekanbaru mencanangkan Kelurahan Kampung Bandar ini sebagai salah satu kelurahan yang menjadi Daerah Tujuan Wisata (DTW) Sejarah di Kota Pekanbaru.

Jika kita berkunjung ke Kampung Bandar yang dulunya dikenal dengan sebutan Kampung Bukit ini, kita akan banyak menemukan situs-situs peninggalan sejarah masa lalu, seperti Rumah H Yahya yang telah berdiri sejak tahun 1887.

Di Rumah H Yahya, rumah tua khas melayu yang berbentuk rumah panggung inilah para pengrajin tenun Siak menenun. Begitu masuk, kita akan disambut oleh Wawa dan Ruhaya. Mereka inilah para pengrajin yang masih tersisa dari KSM Pucuk Rebung.

“Dulunya para pengrajin tenun Siak di sini (KSM Pucuk Rebung, red) berjumlah 20 orang, sekarang ini hanya tinggal kami berdua saja yang aktif. Yang lain banyak yang mundur satu persatu,” ujar Wawa.

Selembar kain tenun Siak dengan motif songket benang emas berukuran 2m x 2m dapat diselesaikan oleh Wawa dan Ruhaya dengan menggunakan alat tenun bukan mesin antara satu hingga dua minggu. Untuk selembar kainnya dijual dengan harga antara Rp500 ribu hingga lebih dari Rp1juta.

Diakui oleh Wawa bahwa menenun ini memerlukan ketekunan yang tinggi, karena dalam setahun diawal menenun ini ia masih trial-and-error dalam menghasilkan produk tenun yang layak jual.

Biasanya mereka memasarkan produk ini dengan cara menitipkan di toko-toko seperti di Pasar Wisata Pasar Bawah dan toko textil di Jalan Jenderal Sudirman. “Karena jarang yang beli di sini, jadi kami titip ke toko-toko saja. Biasanya toko-toko tersebut menjual lebih mahal ketimbang kami,” ungkapnya.

Lebih lanjut Wawa mengatakan bahwa sudah banyak tamu-tamu dari luar negeri yang dibawa oleh instansi terkait berkunjung ke Rumah Tenun ini.  Selain itu, ia berharap adanya dukungan dari pemerintah terkait pencarian bakat-bakat baru yang nantinya akan melestarikan budaya Melayu ini.

About Said Zaki

hanya orang waras yang ngaku gila, karena tidak ada orang gila yang ngaku gila. yang ada orang gila ngaku waras, makanya jika ada orang ngaku waras, maka ia sudah gila