Indonesia Tanah Air Pusaka
Breaking News
Home » Opini » Indonesia Tanah Air Pusaka

Indonesia Tanah Air Pusaka


i_love_indonesia7

“Indonesia Tanah Air Pusaka”

Indonesia Tanah Air Beta, Tanahnya “Bayar” Airnya “Sewa”

Oleh :

Bung Dipa Nusantara

Indonesia merupakan tanah air pusaka warisan ibu pertiwi yang sangat mahal harganya. Indonesia sangat dikenal luas oleh seluruh negara di pelosok dunia.

Ya tepat sekali, Indonesia dikenal sebagai negara dengan iklim tropis yang hangat untuk tubuh dan kondisi alam yang sangat indah dan dapat menentramkan hati bagi siapa saja yang berkunjung kepadanya.

Kata orang “tanah kita tanah surga”, yang ingin penulis berikan sedikit improvisasi intelektual pada statement tersebut, tanah surga bagi siapakah Indonesia ini?

Mungkin surga bagi mereka yang memiliki kuasa, atau surga bagi mereka yang hanya mampu berbicara dan tidak memiliki kuasa.

Indonesia memang tanah surga, tanah yang terdapat kekayaan alam baik hayati ataupun non hayati didalamnya. Dimana, kekayaan tersebut, diperuntukkan untuk berbagai rakyat yang membutuhkannya, si miskin maupun si kaya.

Namun sayang, kondisi ini dimanfaatkan dan digunakan oleh mereka yang memiliki kuasa hanya untuk kepentingan individu ataupun kelompok semata.

Berbicara Indonesia, berarti kita berbicara hutan yang penuh dengan keanekaragaman hayati didalamnya. Dan berbicara kondisi hutan di Indonesia saat ini dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan, sangat tepat apabila kita melihat kepada berbagai fakta yang ada.

Faktanya, saat ini hutan di Indonesia hanya dimanfaatkan oleh berbagai pihak yang hanya rakus akan harta dan kekayaan semata.

Apabila hal ini dilihat dari perspektif politik, tepatnya kepada pendekatan kelembagaan, dapat dilihat titik berat permasalahannya terdapat pada tidak adanya peraturan-peraturan legal-formal yang tegas dan bersifat mengikat dengan sanksi yang tegas tentunya.

Seperti yang terlihat, hukum di Indonesia ini diibaratkan seperti gambar segitiga terbalik, yang makna filosofisnya hukum di Indonesia ini tumpul keatas dan tajam kebawah.

Artinya, saat ini banyak kesalahan-kesalahan dalam pola berfikir (mind set) ataupun kebiasaan bertindak (culture set).

Ya, ketika terjadi suatu permasalahan terkait permasalahan hutan dan alam, banyak stakeholders yang seolah-olah tidak peduli dan mendiamkan permasalahan tersebut.

Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa banyak pihak atau para pemangku kepentingan membiarkan sesuatu kesalahan berfikir dan bertindak pada masa lalu dan justru tidak mau mencoba untuk merubahnya guna masa depan yang baik.

Dapat dilihat pada kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ada di wilayah Sumatera dan Kalimantan yang beberapa saat yang lalu terjadi.

Penulis melihat kebakaran hutan yang terjadi merupakan sebuah rencana yang telah sangat lama dicanangkan untuk saat ini ataupun seterusnya.

Mengapa demikian? Penulis mencoba berfikir secara logis, bahwa sebuah kebakaran hutan dan lahan yang ada tidak hanya terjadi pada satu atau dua tahun belakangan saja, bahkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi telah terjadi sejak tahun 1990-an yang lalu.

Hal ini dapat dilihat pada kebakaran hutan dan lahan yang ada di Riau, dan seluruh wilayah di Indonesia yang juga terkena dampak dari aktifitas pembangunan yang nantinya akan memberikan implikasi pada munculnya berbagai permasalahan lingkungan, pencemaran, dan permasalahan lainnya.

Dalam periode 50 tahun (1950-2000) Indonesia kehilangan 64,8 juta dari 162 juta hektar tutupan hutan yang dimilikinya.

Nah, pertanyaan yang muncul yakni, berapa juta hektar hutan lagi yang telah hilang dalam kurun 15 tahun terakhir (2000-2015)?

Ternyata negara Indonesia pusaka ini belum terbebas dari yang namanya penjajahan yang ada (imperialisme dan kolonialisme).

Namun bedanya, dahulu kala Indonesia dijajah oleh penjajah asing yang mengeksploitasi kondisi alam serta berbagai harta karun yang ada di Indonesia.

Saat ini, Indonesia dijajah oleh bangsanya sendiri. Ya oleh mereka yang tidak pernah puas dalam mencari harta kekayaan dan kekuasaan.

Mereka yang penulis sebutkan sebagai penjajah bangsa sendiri tadi, memiliki pola dan gaya hidup sekuler. Berasal dari bahasa latin saeculum, kata sekuler berkonotasi waktu (sekarang) dan tempat (dunia) ini memang sangat kental dengan prinsip “yang penting sekarang dan di sini”.

Target utamanya adalah memberi kebebasan kepada manusia untuk melakukan apapun yang disukainya tanpa mempedulikan hal-hal yang dianggap normatif atau nilai yang telah mengakar kuat pada budaya di Indonesia.

Artinya, yang saat ini harus dilakukan adalah cintai lingkungan hidupmu seperti kamu mencintai diri kamu sendiri. Ya, cintai juga hutan di dalam lingkunganmu seperti kamu mencintai organ paru-paru yang ada di dalam tubuhmu.

Tidak dapat dipungkiri, hutan di Indonesia merupakan paru-paru bagi masyarakat didalamnya bahkan menjadi paru-paru dunia.

Mulailah kebiasaan untuk mencintai lingkungan hidup khususnya hutan dengan menjaga kelestarian di dalamnya, tidak melakukan penebangan hutan sembarangan dengan mengatasnamakan kekuasaan dan jabatan yang dimiliki.

Serta tidak melakukan pembakaran hutan dan lahan hanya dengan alasan yang tidak logis seperti dengan membakar lebih menghemat anggaran untuk membuka lahan.

Sekali lagi penulis menekankan sebagai penikmat alam di lingkungan Indonesia, dan sebagai penikmat oksigen yang dihasilkan oleh hutan-hutan yang ada di Indonesia.

Indonesia adalah tanah air pusaka abadi nan jaya. Yang wajib kita jaga hingga akhir hayat dan dengan sekuat jiwa dan raga.

Jadilah generasi berani, yang mampu membela yang benar guna menumpas berbagai kesalahan yang selama ini terjadi, bukan menjadi generasi penakut atau generasi wacana yang hanya mampu membela yang bayar.

Mari sama-sama lestarikan hutan dan alam kita untuk saat ini, nanti, dan seterusnya. Jangan jadikan hutan dan alam ini sebagai objek pelampiasan nafsu yang tidak bertanggungjawab.

Karena hutan dan alam Indonesia ini merupakan milik seluruh rakyat, ya, mulai rakyat kelas atas hingga kelas bawah.

Jangan biarkan tawa kecil yang saat ini terpancar pada raut wajah anak-anak muda Indonesia hilang dan direnggut begitu saja, hanya karena kesenangan dan kenikmatan semata.

Karena bagaimanapun, hutan dan alam ini merupakan titipan Tuhan Yang Maha Esa, dan kita sebagai makhluk memiliki tanggungjawab untuk saling menjaga demi kelangsungan kehidupan yang harmonis dan nyaman.

Penulis teringat dengan lagu dari Gombloh yang sangat memiliki makna dan penuh arti bagi kita untuk terus melestarikan hutan dan alam.

Sedikit bait dari lagu tersebut :

Lestari Alamku, Lestari Desaku dimana Tuhan-Ku menitipkan Aku

Mengapa tanah ku rawan kini, Bukit-bukit pun telanjang berdiri

Mari sobat semua, cintai alam, cintai hutan, demi masa depan yang menanti untuk dinikmati dengan nyaman.

Inilah cerita tentang rumahku

Rumah yang aku sebut sebagai Indonesia

Rumah tempat ku dibesarkan

Cinta dalam hati ini tidak dapat diungkapkan untuk Indonesiaku

Karena begitu besarnya cintaku kepadanya

Adakah yang lebih indah dari semua ini

Rumah mungil bercerita cinta yang megah

Berbalut budaya yang begitu indah

Indonesia tanah air pusaka ku untuk kini, nanti, hingga akhir hayat

About Rasyid