Home » Berita » Berita Riau » #cuacaRIAU Curah Hujan Mulai Berkurang di Riau

#cuacaRIAU Curah Hujan Mulai Berkurang di Riau


Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru memantau adanya pusaran angin tertutup (Eddy) di Sumatera bagian tengah. Dengan kondisi tersebut, tiga provinsi yaitu, Riau, Sumatera Barat dan Sumatera Utara berpotensi diselimuti awan hujan.

Tak hanya itu, BMKG juga menjelaskan bahwa tekanan udara rendah masih terjadi di Samudera Hindia bagian barat Sumatera. Hanya saja, jika dibandingkan dengan gangguan daerah tekanan rendah, Eddy tidak meluas. Tapi hanya berada di sekitar pusarannya saja. Sementara tekanan rendah udara cenderung terpusat ke daerah gangguannya.

Menurut Analis BMKG Pekanbaru, Yudhistra Mawaddah kepada wartawan, Minggu (5/5), di awal bulan ini, curah hujan di Riau mulai mengalami penurunan. Karena, jika dikaji secara klimatologi, puncak curah hujan di Riau sebenarnya terjadi pada bulan April lalu. Meski demikian, hujan masih tetap terjadi meski intensitasnya berkurang.

Dijelaskannya, curah hujan yang berpeluang turun tersebut masih bersifat ringan hingga sedang. Curahnya pun terkonsentrasi di wilayah Riau bagian tengah seperti Pekanbaru, Siak dan Pelalawan. Disamping itu di wilayah Riau bagian pesisir timur seperti Kepulauan Meranti, Indragiri Hilir, Bengkalis dan Dumai.

Yudhistira juga memprakirakan hujan yang turun masih memungkinkan disertai petir. Hal ini dipengaruhi oleh pemanasan yang berlangsung dari pagi hingga siang hari. Sehingga penguapan mempercepat pembentukan awan konvektif Comulunimbus.

Menurutnya, awan jenis ini kerap menjadi penyebab turunnya hujan  disertai petir dan angin kencang. Hujan yang ditimbulkan deras tapi waktunya tidak terlalu lama. Berbeda dengan awan Cumulus biasa yang memakan waktu lama tapi curah hujannya tidak lebat.

Karena hujan disertai petir masih berpotensi muncul, Yudhistira menghimbau agar masyarakat lebih waspada. Jika hujan disertai petir muncul, masyarakat hendaknya menjauhi tempat terbuka. Hal ini diperlukan sebagai antisipasi agar tidak tersambar petir. Disamping itu, masyarakat juga disarankan tidak memakai alat elektronik ketika petir berlangsung.

Sementara itu, selain hujan disertai petir, Yudhistira juga memprakirakan angin puting beliung mungkin saja terjadi. Menurutnya, angin puting beliung cenderung terjadi saat masa transisi musim di akhir bulan Mei mendatang.

Lebih lanjut ia menjelaskan, berdasarkan hasil monitoring satelit NOAA, BMKG pada hari Sabtu lalu, di Sumatera hanya terdeteksi 9 titik panas. Lima diantaranya terpantau ada dikawasan  Riau. Yakni di Pelalawan tiga titik, dan di Rokan Hulu serta Indragiri Hilir masing-masingnya satu titik.

Sumber : Tribun Pekanbaru


About Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *