Cinta Diam - Diam by @mondew_
Breaking News
Home » Sastra » Cerpen » Cinta Diam – Diam by @mondew_
cinta diam diam
cinta diam diam

Cinta Diam – Diam by @mondew_


cinta diam diam

Sisi Lena

Lena menghirup cappucinno hangatnya dengan santai. Persis seperti ini yang dia mau. Duduk bersantai tanpa dipusingkan dengan urusan kampusnya apalagi bisa ditemani oleh sahabatnya, Tania. Sambil menikmati cappucinno-nya, ia bersenandung mengikuti irama music yang diputar oleh café itu.

“Santai bener loe,” tegur Tania membuka percakapan.

“Ya iyalah, gue udah bebas!” jawab Lena sambil tersenyum kecil.

“Bagus deh, gue lega juga ngeliatnya. Kirain loe bakal sedih berkepanjangan.” Ujar  Tania lagi. “Jadi, lagi dekat ama siapa loe sekarang?” tanyanya lagi memancing.

Lena menggeleng.

“Gue ga mau ngurus itu dulu deh, males banget.” Jawab Lena santai.

Tania terdiam. Kaget. Bukan jawaban seperti itu yang biasanya akan keluar dari mulut Lena. Seorang Lena yang ia kenal, nggak bakalan deh, mau jomblo berlama-lama. Setelah putus, biasanya dia langsung berusaha mendapatkan penggantinya.

“Loe, yakin?” tanya Tania di tengah kekagetannya.

Lena mengangguk mantap. Tania terpana.

Lena tersenyum geli melihat kekagetan di wajah Tania.

“Ya udah, terserah loe deh, bagus sih.. asal loe jangan ngeluh nantinya,” ujar Tania mengingatkan.

Lena mengangguk.

“Eh, gue ke toilet bentar ya..” pamit Lena kepada Tania dan beranjak pergi.

Ia pun berjalan sendiri ke arah toilet yang letaknya tidak terlalu jauh itu. Ketika asedang berjalan itulah ia melihat sesosok cowok yang udah nggak asing di matanya. Raka. Cowok yang disukainya sejak dulu, namun ia tahu diri untuk nggak berharap kepadanya.

Lena berjalan menunduk. Nggak mau Raka sampai mengenalinya. Lena malu mengakui kalau ia masih saja salah tingkah di depan Raka.

“Lena..Lena..” tiba-tiba Lena mendengar sebuah suara sayup-sayup. Ternyata Kevin, teman Raka yang rupanya melihatnya.

Lena semakin panik. Ia mempercepat langkah kakinya menuju toilet. Pura-pura nggak mendengar suara Kevin.

 

Sekembalinya dari toilet, Lena langsung menceritakan semuanya ke Tania.

“Serius loe ketemu ama Raka?” tanya Tania nggak percaya.

“Iyaa… loe kira kenapa gue deg-degan gini??” sungut Lena.

“Pantesan muka loe merah gitu.. hahhaha.” Tawa Tania pun pecah menggoda Lena.

Lena tertunduk malu. Dia emang paling nggak bisa berbohong dari temannya satu ini.

“Kenapa nggak dilanjutin aja loe ama dia?” tanya Tania.

“Ga ah, dia ga suka ama gue.” Jawab Lena lemah.

“Tau darimana loe?” tanya Tania lagi.

“Tau aja. Kalo dia suka juga, pasti udah dari dulu jadian. Lagian. Dia siapa, gue siapa… ga bakalan lha,” terang Lena kepada Tania.

Tania mengangguk paham. Sedih melihat nasib temannya. Tapi nggak ada yang bisa dilakukannya.

 

 

Sisi Raka

Raka bete banget siang ini. Sudah jam tiga sore dan ia belum makan siang. Semuanya gara-gara Kevin yang memintanya menemaninya untuk mencari sepatu.

Yang bikin Raka tambah bete adalah karena sekesal apapun dia siang itu, dia harus tetap pasang tampang manis, pasang tampang ceria karena sedang berada di tempat umum. Fans nya bisa ada kapan aja buat minta foto bareng. Belum lagi kalo ada paparazzi yang nangkep muka bete nya. Bisa jadi berita dia.

Dan mereka baru saja mendapatkan sepatu seperti yang diinginkan Kevin ketika perut Raka udah seperti genderang perang.

“Kita makan dulu?” tanya Kevin tanpa dosa.

Raka hanya menatap Kevin dalam diam.

“Oh, oke. Makan kalo gitu.” Sahut Kevin langsung mengerti.

Raka mendengus kesal. Ingin rasanya menjitak kepala Kevin.

Ketika sedang mencari tempat makan itulah Raka menangkap sosok Lena di depannya. Gadis yang sempat menarik hatinya walau baru beberapa kali bertemu.

Sedetik sempat tatapan mereka bertemu. Namun Lena memalingkan wajahnya. Sedikit kecewa Raka ketika Lena melakukan itu.

Rupanya bukan hanya dia yang melihat Lena. Kevin juga. Dan dengan hebohnya Kevin lalu memanggil Lena. Raka menatap Lena, menunggu reaksinya. Tepat seperti dugaannya. Lena berlalu.

Raka tersenyum kecut.

“Ka, itu beneran Lena ga sih?” tanya Kevin bingung.

“Iya, itu Lena..” jawab Raka singkat.

“Kok dia pergi gitu aja.. ? biasanya juga tuh anak ramenya kayak pasar.” Ujar Kevin keheranan.

Raka hanya menunduk. Ia sendiri tak  mengerti.

“Raka! Kok melamun loe? Eh, loe tau ga Lena tuh suka ama loe?” tanya Kevin tiba-tiba.

“Ngaco loe. Ga mungkin lha.. dia udah punya cowok.” Jawab Raka. Jantungnya mendadak berdegup kencang.

“Yeh, loe ga percaya ya?? Dia kan sempat curhat ke Widy.” Lanjut Kevin lagi.

Raka terdiam. Menatap Kevin.

“Mungkin dia pernah suka gue. Kalo sekarang, loe liat aja sendiri tadi sikap dia kaya gimana. Kaya orang ga mau kenal ama gue.” Ujar Raka pelan.

Kevin menatapnya simpati.

“Kenapa loe ga coba dekatin dia lagi aja?” tanya Kevin.

Raka tersenyum sedih.

Lena. Cewek yang periang itu, nggak akan kesusahan mencari pasangan baru. Dan dia, dengan jadwal segudang, dengan sikap cueknya, nggak akan pantes dapetin Lena.

“Gue yakin dia ga suka ama gue.” Jawab Raka akhirnya.

Kevin hanya diam menatap punggung Raka yang menjauh.

About Monalisa Dewa Ayu

Announcer & MC ||mdewaayu@gmail.com